Business
Harga Emas Ambruk 4 Persen: Ulah Bandar, Masih Bisa Naik?
Semarang (usmnews) – Guncangan hebat melanda pasar komoditas global pada perdagangan hari ini, Selasa (3/2/2026). Fenomena harga emas ambruk secara signifikan sukses membuat para investor ritel panik. Logam mulia yang sebelumnya gagah mencetak rekor tertinggi, kini harus rela terpangkas sangat dalam hingga mendekati 4 persen dalam waktu singkat.
Penurunan drastis ini memicu tanda tanya besar di kalangan pelaku pasar. Akibatnya, spekulasi bermunculan mengenai penyebab utama yang merontokkan harga aset safe haven ini dalam sekejap mata.
Baca Juga:
Prediksi Harga Emas 2026: Tembus Rp 4,2 Juta, Waktunya Beli?
Penyebab Utama Harga Emas Ambruk 4 Persen
Melansir analisis mendalam dari CNBC Indonesia, kejatuhan ini terjadi akibat aksi jual yang tergolong “brutal”. Para bandar atau pemegang modal besar melakukan aksi ambil untung (profit taking) secara masif dan serentak. Langkah ini mereka ambil setelah harga emas terbang tinggi tanpa henti dalam beberapa pekan terakhir.
Selain itu, faktor makroekonomi juga turut memperparah keadaan. Indeks Dolar AS (DXY) tiba-tiba menunjukkan taringnya dengan menguat tajam. Hal ini membuat harga emas menjadi sangat mahal bagi pemegang mata uang asing. Sehingga, tekanan jual pun tak terbendung lagi.
“Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS juga menekan kilau emas, membuat investor beralih memegang uang tunai,” tulis riset tersebut.
Masih Adakah Harapan Harga Kembali Naik?
Meski harga emas ambruk cukup dalam hari ini, sejumlah analis senior menyarankan pelaku pasar untuk tetap tenang dan rasional. Mereka menilai koreksi tajam ini sebagai “koreksi sehat” yang wajar dalam sebuah tren kenaikan (bullish) jangka panjang.
Pasar membutuhkan “napas” atau konsolidasi sebelum melanjutkan pendakian ke level yang lebih tinggi. Struktur pasar emas dinilai masih cukup kuat selama tidak menembus level support krusialnya.
Namun, investor ritel wajib meningkatkan kewaspadaan. Volatilitas pasar saat ini sangat tinggi dan berisiko. Oleh karena itu, strategi terbaik bagi trader jangka pendek adalah wait and see. Jangan terburu-buru melakukan aksi beli (catch the falling knife) sebelum muncul sinyal pembalikan arah (rebound) yang valid dan terkonfirmasi.
Kesimpulannya, badai aksi jual ini mungkin bersifat sementara. Namun, dampaknya cukup menyakitkan bagi mereka yang membeli di pucuk harga. Kita perlu memantau penutupan pasar hari ini untuk menentukan arah tren selanjutnya.