Connect with us

Nasional

Gerhana Matahari Cincin 2026 Muncul Jelang Ramadan

Published

on

Semarang (usmnews)– Fenomena langit yang menakjubkan akan segera menyapa penduduk bumi dalam waktu dekat. Para astronom memprediksi Gerhana Matahari Cincin 2026 akan muncul tepat sehari sebelum umat Muslim memulai ibadah puasa Ramadan. Momen langka ini tentu menjadi perhatian khusus karena bertepatan dengan penentuan awal bulan suci.

Fenomena ini tidak hanya menarik bagi komunitas sains, tetapi juga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat umum. Akibatnya, antusiasme publik untuk menyaksikan “Cincin Api” di angkasa mulai meningkat. Namun, Anda perlu mengetahui fakta-fakta penting agar tidak salah dalam mengamati peristiwa alam tersebut.

Baca Juga:
Nisfu Syaban 2026: Persiapan Menuju Ramadan

Gerhana Matahari Cincin 2026: Kado Jelang Ramadan

Melansir informasi resmi dari Tribratanews NTB, peristiwa astronomi ini akan terjadi pada tanggal 17 Februari 2026. Tanggal tersebut berbatasan langsung dengan prediksi awal Ramadan 1447 Hijriah yang kemungkinan jatuh pada 18 Februari 2026.

Dalam peristiwa ini, posisi bulan akan menutupi sekitar 96 persen piringan matahari. Hal ini menyisakan lingkaran cahaya terang di bagian tepi yang menyerupai cincin emas raksasa. Para ilmuwan memperkirakan puncak gerhana akan berlangsung pada pukul 19.12 WIB.

“Dunia akan menyaksikan gerhana matahari annular sehari sebelum awal puasa. Ini menjadi fenomena langit langka yang sayang untuk dilewatkan,” tulis laporan tersebut.

Selain itu, gerhana jenis annular ini terjadi karena posisi bulan berada di titik terjauh dari bumi (apogee). Sehingga, ukuran piringan bulan tampak lebih kecil dan tidak mampu menutupi matahari secara sempurna seperti pada gerhana total.

Lokasi Pengamatan dan Cara Menyaksikannya

Selanjutnya, pertanyaan besarnya adalah: apakah kita bisa menyaksikannya dari Indonesia? Sayangnya, fenomena Gerhana Matahari Cincin 2026 kali ini hanya melintasi wilayah tertentu di belahan bumi selatan.

Wilayah yang beruntung bisa melihat “Cincin Api” secara langsung meliputi sebagian besar Antartika. Sementara itu, wilayah Afrika bagian selatan dan Amerika Selatan bagian selatan hanya bisa menikmati gerhana matahari sebagian.

Oleh karena itu, bagi masyarakat Indonesia yang penasaran, opsi terbaik adalah menyaksikannya secara daring (online). Sejumlah observatorium global dan lembaga astronomi berencana menayangkan siaran langsung (live streaming) fenomena ini melalui kanal resmi mereka.

Aspek Keamanan yang Wajib Diperhatikan

Penting untuk mengingat bahwa melihat matahari secara langsung sangat berbahaya bagi mata, bahkan saat gerhana berlangsung. Sinar ultraviolet yang kuat dapat merusak retina dan menyebabkan kebutaan permanen.

Maka dari itu, para ahli mewajibkan penggunaan kacamata khusus gerhana yang memiliki filter pelindung standar internasional. Jangan sekali-kali menggunakan kacamata hitam biasa, klise film, atau pantulan air karena benda-benda tersebut tidak memberikan perlindungan yang memadai.

Kesimpulannya, meskipun kita tidak bisa melihatnya langsung dari halaman rumah, Gerhana Matahari Cincin 2026 tetap menjadi penanda alam yang indah menyambut bulan suci Ramadan. Mari kita manfaatkan teknologi untuk turut mengagumi kebesaran Tuhan melalui fenomena semesta ini.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *