Lifestyle
Geliat Ekonomi Kreatif: Pameran Anthurium dan Aglaonema Jadi Magnet Baru di Kota Semarang

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Tribungjateng Pameran dan kontes tanaman hias kini menjadi daya tarik baru yang sukses menarik minat para pecinta tanaman di Kota Semarang. Sebuah kegiatan yang secara khusus menyoroti dua primadona tanaman hias, yakni anthurium dan aglaonema, telah resmi dibuka oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Acara ini diselenggarakan di lokasi Eks Wonderia, Jalan Sriwijaya, Candisari, dan berlangsung selama lebih dari sepekan, dari Jumat hingga Minggu (14-23 November 2025).
Dalam sambutannya, Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan bahwa kontes ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar ajang kompetisi. Menurutnya, acara ini berfungsi sebagai sebuah ruang penting yang mempertemukan tiga elemen sekaligus: kreativitas para pegiat tanaman, potensi perputaran ekonomi, dan wadah berkumpulnya komunitas pecinta tanaman hias.

Agustina menjelaskan bahwa kedua tanaman yang menjadi primadona memiliki filosofi yang kuat. Anthurium, dengan bentuknya yang unik menyerupai hati tegak dan warnanya yang merah cerah, dipercaya mampu menghadirkan energi positif berupa semangat, keramahan, serta kemakmuran bagi pemiliknya.
Sementara itu, aglaonema, yang di kalangan masyarakat Jawa sering dijuluki sebagai “sri rezeki”, secara luas dianggap sebagai simbol pembawa keberuntungan dan perlambang pertumbuhan baru.
“Saya melihat pameran ini selain kompetisi, juga sarana untuk memanjakan mata dan ruang pertemuan bagi orang-orang yang telaten, merawat kehidupan sehelai demi sehelai,” ujar Agustina. Ia juga berbagi pengalaman pribadinya bahwa merawat bunga dapat mendatangkan rezeki yang luar biasa. Oleh karena itu, ia memahami bahwa pameran, kontes, atau festival semacam ini adalah momen yang sangat dinantikan oleh para pemilik tanaman hias.
Antusiasme publik terbukti tinggi. Tercatat sebanyak 262 peserta mendaftar untuk kontes kategori anthurium dan 265 peserta untuk kategori aglaonema. Pameran ini juga diramaikan oleh 44 stan tanaman hias yang datang dari berbagai kota dan kabupaten, termasuk dari Jawa Timur dan Sragen.
Di sisi lain, Agustina juga mengingatkan kembali fenomena ledakan harga tanaman hias yang pernah terjadi pada periode 2009–2011. Saat itu, anthurium diburu banyak orang hingga ke pekarangan rumah warga karena nilai jualnya yang melambung fantastis.

“Nah, sekarang belum ada lagi. Dan saya yakin para pecinta tanaman hias ini menunggu momentum,” ungkapnya. Kehadiran 44 stan dari berbagai daerah, menurutnya, “menunjukkan bahwa Kota Semarang diterima sebagai tuan rumah.”
Agustina menilai bahwa kebangkitan pameran seperti ini dapat dijadikan sebagai salah satu indikator peningkatan ekonomi masyarakat. Logikanya, tanaman hias bukanlah kebutuhan pokok konsumen. Pembelinya biasanya berasal dari segmen tertentu yang memiliki daya beli cukup kuat.
“Artinya segmen tertentu inilah yang nantinya akan menjadi industri kreatif yang akan mendukung dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi,” jelas Agustina. Ia berharap masyarakat Kota Semarang akan semakin giat menghiasi rumahnya dengan berbagai macam tanaman hias. “Tidak hanya rajin membeli, tetapi juga rajin merawat karena keindahan setiap rumah menjadi keindahan keseluruhan Kota Semarang,” pungkasnya.







