anonymous
Evolusi Ancaman Siber 2025: Mengupas Bahaya ‘Agentic AI’ dan Urgensi Kesiapan Digital Indonesia

Semarang (usmnews) – Dikutip daricsrit.bpip.go.id Laporan terbaru dari CSIRT Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyoroti sebuah pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan dalam lanskap keamanan siber global pada tahun 2025. Jika tahun-tahun sebelumnya dunia teknologi terkesima dengan kemampuan Generative AI (seperti ChatGPT) yang mampu membuat teks dan gambar, tahun 2025 menandai munculnya era baru yang jauh lebih berbahaya: Agentic AI atau AI Agen Otonom.
Apa Itu Agentic AI dan Mengapa Berbahaya?

Berbeda dengan AI generatif tradisional yang bersifat pasif (menunggu perintah atau prompt dari manusia untuk bekerja), Agentic AI memiliki kemampuan otonomi yang tinggi. AI jenis ini tidak hanya sekadar “menjawab pertanyaan”, melainkan mampu “bertindak” untuk mencapai tujuan tertentu secara mandiri.
Dalam konteks kejahatan siber, ini berarti para peretas dapat memprogram AI dengan satu tujuan sederhana, misalnya “bobol sistem keamanan bank X”. Agentic AI kemudian akan secara mandiri merancang strategi, mencari celah keamanan (vulnerability), menulis kode jahat (malware), bahkan melakukan adaptasi serangan jika menemui hambatan, semuanya tanpa campur tangan manusia lagi. Kemampuan untuk mengambil keputusan logis dan mengeksekusi tindakan berantai inilah yang membuat Agentic AI menjadi ancaman yang sangat sulit diprediksi dan ditangkal oleh sistem keamanan konvensional.
Vektor Serangan yang Semakin Canggih
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa kemunculan Agentic AI akan memperburuk metode serangan siber yang sudah ada, antara lain:
1. Phishing yang Terpersonalisasi (Spear Phishing): Dengan kemampuan analisis data yang cepat, AI dapat membuat email tipuan yang sangat meyakinkan, meniru gaya bahasa atasan atau rekan kerja target, sehingga korban sulit membedakan mana komunikasi asli dan mana yang palsu.
2. Otomasi Ransomware: Serangan penyanderaan data tidak lagi dilakukan secara manual. AI dapat memindai ribuan jaringan dalam hitungan detik, menemukan pintu belakang yang terbuka, dan mengunci data vital perusahaan sebelum tim IT menyadari adanya intrusi.
3. Deepfake Tingkat Lanjut: Penipuan menggunakan manipulasi audio dan video akan semakin halus, digunakan untuk memanipulasi opini publik atau melakukan penipuan finansial tingkat tinggi.
Indonesia dalam Radar Ancaman
Bagi Indonesia, peringatan ini adalah “lampu kuning” yang serius. Sebagai negara dengan populasi pengguna internet yang masif namun tingkat literasi keamanan siber yang masih perlu ditingkatkan, Indonesia merupakan target empuk bagi para aktor jahat (threat actors). Transformasi digital yang digenjot pemerintah di berbagai sektor—mulai dari e-government hingga ekonomi digital—harus dibarengi dengan pemutakhiran sistem pertahanan siber.

Langkah Mitigasi: Pertahanan Berbasis AI dan Zero Trust
Menghadapi musuh yang menggunakan mesin cerdas, pertahanan manual manusia tidak lagi cukup. Organisasi di Indonesia didorong untuk mengadopsi pendekatan “Zero Trust Architecture” (jangan percaya siapapun, verifikasi segalanya). Selain itu, pertahanan siber masa depan harus menerapkan strategi “melawan api dengan api”. Kita membutuhkan sistem keamanan yang juga ditenagai oleh AI (AI-driven defense) yang mampu mendeteksi anomali dan merespons serangan dalam hitungan milidetik, jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia.
Kesimpulannya, tahun 2025 bukan saatnya untuk lengah. Ancaman siber telah berevolusi dari sekadar gangguan teknis menjadi ancaman otonom yang cerdas. Kewaspadaan, edukasi literasi digital, dan investasi pada infrastruktur keamanan siber yang adaptif adalah kunci untuk menjaga kedaulatan data di era Agentic AI.







