International
Eskalasi Mematikan di Amerika Latin: Kolombia Tuding AS Luncurkan Serangan Rudal ke Jantung Caracas

Semarang (usmnews) – Ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Selatan dilaporkan mencapai titik didih baru pada awal tahun 2026 ini. Pemerintah Kolombia, melalui pernyataan resminya yang mengejutkan dunia internasional, menuding bahwa Amerika Serikat telah melancarkan operasi militer ofensif secara langsung terhadap negara tetangganya, Venezuela. Laporan tersebut menyebutkan bahwa serangkaian serangan rudal telah menghantam ibu kota Venezuela, Caracas, memicu kepanikan massal dan kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh otoritas Kolombia, serangan tersebut tidak menyasar wilayah perbatasan, melainkan langsung menargetkan pusat kekuasaan di Caracas. Ledakan dahsyat dilaporkan terdengar di beberapa titik strategis ibu kota.
Pihak Kolombia mengklaim memiliki bukti radar dan intelijen yang menunjukkan lintasan proyektil yang diduga kuat berasal dari aset militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Karibia. Target serangan diduga meliputi instalasi militer vital Venezuela, pusat komando pertahanan udara, dan bahkan area di sekitar Istana Miraflores. Asap tebal dilaporkan membumbung tinggi di langit Caracas, sementara sirene peringatan udara meraung-raung di seluruh penjuru kota.

Pernyataan Kolombia ini menjadi sangat krusial dan berisiko tinggi mengingat posisi strategis negara tersebut. Sebagai sekutu tradisional Amerika Serikat di kawasan tersebut, namun juga tetangga terdekat Venezuela yang berbagi garis perbatasan yang panjang dan rumit, Kolombia berada dalam situasi yang sangat dilematis.
Jika tuduhan ini benar, maka ini menandakan pergeseran drastis dalam kebijakan luar negeri AS di bawah administrasi saat ini, beralih dari sanksi ekonomi dan tekanan diplomatik menjadi konfrontasi militer terbuka. Kolombia menyuarakan kekhawatiran bahwa serangan ini akan memicu gelombang pengungsi baru yang masif ke wilayahnya, serta potensi serangan balasan yang dapat menyeret seluruh kawasan Amerika Latin ke dalam kancah peperangan regional yang luas.
Kabar mengenai rudal yang menghantam Caracas segera memicu reaksi berantai di pasar global. Harga minyak dunia diprediksi akan melonjak tajam mengingat posisi Venezuela sebagai salah satu pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, meskipun produksinya telah menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Komunitas internasional kini menanti konfirmasi resmi dari Washington. Bungkamnya pihak Gedung Putih atau Pentagon sejauh ini justru memperkuat spekulasi dan ketidakpastian. Sementara itu, sekutu-sekutu Venezuela, seperti Rusia dan Tiongkok, diperkirakan akan mengeluarkan kecaman keras dan mungkin memobilisasi dukungan di Dewan Keamanan PBB.
Hingga saat ini, situasi di lapangan masih tertutup “kabut perang” (fog of war). Jaringan komunikasi di Caracas dilaporkan mengalami gangguan parah, menyulitkan verifikasi independen mengenai jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan yang sebenarnya. Dunia kini menahan napas, menanti apakah insiden ini merupakan serangan terbatas (surgical strike) atau awal dari invasi militer skala penuh yang akan mengubah peta politik Amerika Selatan selamanya.







