Connect with us

International

Eskalasi Konflik Gedung Putih: Hinaan Fisik hingga Ancaman Pencabutan Izin Warnai Perseteruan Trump dan Media

Published

on

Washington DC (usmnews) – Dirangkum dari Liputan6, hubungan yang penuh gejolak antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan awak media kembali mencapai titik didih baru pada pertengahan November 2025.

Dalam kurun waktu kurang dari satu pekan, terjadi dua insiden profil tinggi yang melibatkan serangan verbal langsung dari Presiden terhadap jurnalis perempuan, menandakan semakin buruknya iklim kebebasan pers di lingkungan Gedung Putih.

Insiden di Air Force One: Hinaan Verbal yang Merendahkan

Foto: Liputan6

Ketegangan bermula pada Jumat (14/11/2025) di dalam pesawat kepresidenan Air Force One. Saat itu, Catherine Lucey, seorang reporter dari Bloomberg, berupaya mengonfirmasi alasan keengganan Trump merilis dokumen terkait mendiang pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, terutama jika memang tidak ada bukti yang memberatkan dirinya. Alih-alih memberikan jawaban substansial, Trump merespons dengan serangan personal yang sangat kasar. Ia menunjuk wajah sang jurnalis dan melontarkan kalimat penghinaan, “Quiet. Quiet, piggy” (Diam. Diam, babi kecil).

​Meskipun insiden ini sempat tidak terendus publik selama beberapa hari, kabar tersebut akhirnya meledak di media sosial pada hari Selasa. Reaksi keras bermunculan, termasuk dari penyiar senior CNN, Jake Tapper, yang mengecam perilaku tersebut sebagai tindakan yang menjijikkan dan tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala negara.

Konfrontasi Oval Office: Membela Pangeran Saudi dan Menyerang ABC News

Belum reda isu penghinaan tersebut, Trump kembali terlibat konfrontasi panas pada Selasa (18/11/2025) di Oval Office saat menerima kunjungan kenegaraan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Kali ini, sasaran kemarahan Trump adalah Mary Bruce, korespondensen ABC News.

​Situasi memanas ketika Bruce mencecar Trump dengan pertanyaan kritis mengenai potensi konflik kepentingan bisnis keluarga Trump—yang baru saja menyepakati pembangunan resor di Maladewa dengan pengembang Saudi—serta isu hak asasi manusia terkait pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Bruce menyoroti kemarahan keluarga korban 9/11 dan laporan intelijen AS yang mengaitkan MBS dengan pembunuhan tersebut.

​Merasa tamunya dipojokkan, Trump langsung memotong pembicaraan dengan melabeli ABC News sebagai “berita palsu” dan salah satu media terburuk. Ia membela bantahan MBS dan menegaskan bahwa pertanyaan Bruce hanya mempermalukan tamu negara. Trump juga bersikeras bahwa ia tidak lagi terlibat dalam operasional Trump Organization yang kini dikelola putra-putranya.

Ancaman Pembungkaman Pers

Puncak ketegangan terjadi ketika Bruce beralih ke topik Jeffrey Epstein, menyusul keputusan Kongres untuk merilis berkas kasus tersebut. Trump tidak hanya menyerang sikap profesional Bruce dengan menyebutnya sebagai “reporter yang buruk”, tetapi juga mengeluarkan ancaman serius terhadap institusi pers. Ia menuduh skandal Epstein sebagai rekayasa dan mengancam akan mendesak regulator penyiaran AS untuk meninjau ulang bahkan mencabut lisensi siaran ABC News.

​Insiden ini diakhiri dengan tindakan otoriter Trump yang secara sepihak melarang Bruce mengajukan pertanyaan lebih lanjut, mempertegas pola permusuhan yang kian nyata antara administrasi Trump dan jurnalis yang kritis.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *