Sports
Drama Tanpa Gol di Foxborough Kontroversi VAR Warnai Hasil Imbang Inggris Kontra Ghana di Piala Dunia 2026
Semarang (usmnews) – Dikutip dari Liputan6.com, Secara statistik dan jalannya pertandingan, skuad The Three Lions memang tampil jauh lebih mendominasi dalam urusan penguasaan bola. Anak asuh Thomas Tuchel terus mengurung pertahanan lawan dari berbagai sisi lapangan. Namun, dominasi tersebut terasa hampa karena mereka tampak sangat frustrasi dan kesulitan untuk menemukan celah.
Di sisi lain, lini belakang tim berjuluk The Black Stars tampil begitu disiplin, solid, dan terorganisir dengan sangat baik, sehingga membuat deretan penyerang elit Inggris menemui jalan buntu. Ghana tidak hanya diam bertahan total; mereka bermain cerdik dengan mengandalkan skema serangan balik kilat yang terukur. Transisi cepat ini nyatanya beberapa kali sukses merepotkan dan mengancam barisan pertahanan Inggris. Sayangnya, karena minimnya peluang bersih dan penyelesaian akhir yang kurang maksimal, tidak ada gol yang tercipta dari kedua belah pihak hingga waktu normal usai.
Puncak Kontroversi: Kritik Tajam Carlos Queiroz Terhadap VAR
Di luar jalannya permainan yang alot, sorotan utama dan perbincangan terpanas justru tertuju pada serangkaian keputusan krusial dari wasit dan penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) pada menit-menit krusial menjelang pertandingan berakhir. Momen penuh kontroversi ini memantik amarah pelatih kepala Ghana, Carlos Queiroz, yang tidak segan memberikan kritik pedas terhadap kinerja perangkat pertandingan.
Queiroz secara terang-terangan merasa bahwa timnya sangat dirugikan dan berhak mendapatkan hadiah tendangan penalti pada momen yang sangat menentukan tersebut. Insiden ini bermula ketika pemain bertahan Inggris, Ezri Konsa, terlihat melakukan tekel keras terhadap Prince Kwabena Adu di dalam area kotak terlarang, saat berupaya memutus alur serangan Ghana.
Meskipun insiden tersebut memicu protes, wasit utama Said Martinez secara mengejutkan memutuskan untuk tetap melanjutkan jalannya pertandingan tanpa memberikan sanksi penalti setelah proses peninjauan. Kekecewaan mendalam langsung menyelimuti kubu wakil Afrika tersebut. Saking frustrasinya, Queiroz melontarkan sindiran sarkastis yang tajam.
“VAR sepertinya sedang pergi minum kopi. Saya mohon maaf atas ucapan sarkasme saya ini, yang sebenarnya lebih terdengar seperti ungkapan ‘saya minta maaf, namun saya sama sekali tidak menyesal mengatakannya’,” tegas pelatih kawakan tersebut.
Pekerjaan Rumah Besar bagi Skuad Thomas Tuchel
Di sisi lain, terlepas dari drama VAR yang merugikan Ghana, hasil imbang ini juga membuka mata banyak pihak mengenai sederet pekerjaan rumah (PR) besar yang masih harus diselesaikan oleh Timnas Inggris. Skuad besutan Thomas Tuchel masih memperlihatkan penyakit inkonsistensi yang nyata. Beberapa celah yang terlihat jelas meliputi:
- Penyelesaian Akhir yang Tumpul: Dominasi penguasaan bola tidak berbanding lurus dengan penciptaan peluang emas di sepertiga akhir pertahanan lawan.
- Kerentanan Transisi Bertahan: Lini pertahanan Inggris kerap kali tampak lengah dan kewalahan ketika harus menghadapi serangan balik cepat. Kelemahan ini bisa menjadi bumerang fatal jika mereka berhadapan dengan tim yang memiliki striker lebih klinis dan mematikan.
Mantan penjaga gawang andalan Timnas Inggris, Joe Hart, turut memberikan pandangan analitisnya terkait performa timnas. Ia menilai bahwa level permainan Inggris saat ini belum cukup untuk membuat lawan-lawan tangguh merasa gentar.
“Saya merasa Inggris belum tentu akan memberikan rasa takut kepada tim-tim raksasa Eropa lainnya seperti Prancis, Spanyol, ataupun Portugal. Tim-tim tersebut pastinya akan menjadikan pertandingan melawan Kroasia nanti sebagai referensi utama mereka saat harus berhadapan dengan Inggris,” ungkap Joe Hart. Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi Inggris untuk segera menemukan ritme permainan terbaik mereka di sisa laga Piala Dunia 2026.