Tech
Disrupsi Teknologi: Robot Humanoid Canggih Asal China Kini Dijual “Merakyat”, Siap Geser Dominasi Barat

Semarang (usmnews) – Dikutip dari inet.detik.com, Dunia teknologi kembali dikejutkan oleh inovasi agresif dari Negeri Tirai Bambu. Sebuah perusahaan robotika terkemuka asal China, Unitree Robotics, baru saja meluncurkan produk terbarunya yang diprediksi akan mengubah peta persaingan industri kecerdasan buatan (AI) global.
Produk tersebut adalah Unitree G1, sebuah robot humanoid (berbentuk manusia) yang ditawarkan dengan harga yang sangat mengejutkan, bahkan diklaim setara dengan harga gadget premium atau varian iPhone tertinggi, sebuah titik harga yang sebelumnya dianggap mustahil untuk teknologi sekompleks ini.
Harga yang Mengubah Aturan Main
Selama ini, robot humanoid identik dengan biaya riset miliaran dolar dan harga jual yang hanya terjangkau oleh laboratorium besar atau perusahaan raksasa sekelas NASA atau Boston Dynamics.
Namun, Unitree G1 mendobrak stigma tersebut dengan mematok harga di kisaran USD 16.000 (sekitar Rp 250-an juta) untuk versi standar. Meskipun angka ini masih terdengar tinggi bagi sebagian orang, dalam konteks industri robotika canggih, harga ini adalah sebuah revolusi turun drastis dibandingkan kompetitornya yang bisa mencapai ratusan ribu dolar.
Bahkan, beberapa varian atau model edukasi diproyeksikan akan terus ditekan harganya hingga mendekati biaya perangkat elektronik konsumen high-end di masa depan. Strategi “harga miring” ini dinilai sebagai langkah langsung untuk menantang dominasi Tesla Optimus milik Elon Musk dan Atlas milik Boston Dynamics, dengan menawarkan ketersediaan produk secara massal lebih cepat daripada para pesaingnya dari Barat.

Spesifikasi dan Kemampuan: Bukan Sekadar Mainan
Meski harganya “ekonomis” untuk ukuran robot, kemampuan Unitree G1 tidak bisa dipandang sebelah mata. Robot ini didesain dengan fleksibilitas luar biasa. Ia memiliki rentang gerak sendi yang sangat luas, memungkinkannya untuk melakukan gerakan-gerakan kompleks seperti bangkit dari posisi tidur tengkurap, melipat tubuhnya menjadi ukuran kompak (sehingga mudah dibawa atau dimasukkan ke bagasi mobil), hingga melakukan tugas-tugas halus yang membutuhkan presisi tinggi.
Dalam demonstrasi yang dirilis, robot ini memamerkan kemampuan motorik halusnya, seperti memecahkan kulit kenari tanpa menghancurkan isinya dan membuka tutup botol minuman bersoda. Kemampuan ini didukung oleh integrasi sensor LiDAR 3D dan kamera kedalaman (depth camera) yang memungkinkannya memetakan lingkungan sekitar secara real-time, meniru cara manusia melihat dan berinteraksi dengan dunia.
Ancaman Nyata bagi Dominasi AS
Kehadiran Unitree G1 menjadi sinyal bahaya bagi dominasi teknologi Amerika Serikat. Jika Tesla masih bergelut dengan penyempurnaan prototipe Optimus untuk penggunaan internal pabrik, perusahaan China sudah melangkah ke tahap komersialisasi publik.
Keunggulan China terletak pada rantai pasok (supply chain) komponen elektronik yang sangat efisien dan biaya produksi yang rendah, memungkinkan mereka memproduksi robot canggih dengan margin harga yang sulit ditandingi oleh perusahaan Barat.
Masa Depan “Asisten Rumah Tangga” Robotik Peluncuran ini memicu diskusi luas mengenai masa depan interaksi manusia dan mesin. Dengan harga yang semakin terjangkau, visi fiksi ilmiah di mana setiap rumah tangga memiliki asisten robot untuk membantu pekerjaan domestik seperti melipat pakaian, memasak, atau menjaga lansia kini terasa semakin dekat dengan kenyataan.
Unitree G1 bukan lagi sekadar alat riset, melainkan “Humanoid Agent” yang siap belajar dan beradaptasi dengan lingkungan kerja maupun rumah tangga melalui pembaruan perangkat lunak berbasis AI.







