Business
Dinamika Pasar Kopi, Pemulihan Harga Robusta di Tengah Penundaan EUDR dan Bencana Banjir Sumatera
Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com komoditas kopi dunia tengah mengalami pergerakan yang dinamis menjelang akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Harga berjangka kopi Robusta menunjukkan tren pemulihan yang positif, khususnya tercatat pada perdagangan Selasa (23/12/2025). Tren kenaikan ini didorong oleh dua sentimen utama yang saling berkelindan: dampak cuaca ekstrem di sentra produksi Indonesia dan keputusan strategis Uni Eropa terkait regulasi deforestasi.
Dampak Siklon Tropis dan Proyeksi Produksi Global
Di Indonesia, cuaca ekstrem akibat siklon tropis Senyar memicu curah hujan tinggi dan banjir bandang yang menghantam wilayah Sumatera. Laporan lapangan menunjukkan kerusakan yang signifikan pada perkebunan kopi Arabika di wilayah utara Sumatera, di mana lebih dari sepertiga lahan mengalami kerusakan. Kendati demikian, pasokan kopi Robusta untuk ekspor dinilai relatif aman karena karakteristik tanaman ini yang lebih tangguh menghadapi anomali cuaca dibandingkan Arabika.
Sementara itu, dalam skala global, perhatian pasar tertuju pada Brasil. Sebuah laporan yang dikutip oleh Comunicaffe pada Senin (12/1/2026) memproyeksikan skenario optimis: jika curah hujan pada kuartal pertama 2026 memadai untuk pengisian biji kopi, produksi Arabika Brasil dapat meningkat. Hal ini berpotensi menciptakan surplus neraca produksi-konsumsi global. Namun, sebelum periode panen tersebut tiba, pasar masih harus menghadapi kenyataan terbatasnya pasokan dan ekspor dari negara produsen kopi terbesar tersebut.
Pergeseran Posisi Pasar dan Jadwal Perdagangan
Dari sisi finansial, data Commitment of Traders memperlihatkan perubahan strategi para pelaku pasar di bursa Arabika New York. Hingga pertengahan Desember 2025, kelompok spekulatif non-komersial terlihat mengurangi ekspur mereka dengan memangkas posisi beli bersih (net long) sebesar 17,24 persen menjadi 18.870 lot. Aksi jual juga terlihat pada reksa dana Nature Managed Money Fund. Sebaliknya, investor jangka panjang melalui Nature Index Fund justru mengambil langkah berbeda dengan sedikit menambah posisi beli mereka, menandakan adanya optimisme jangka panjang yang masih terjaga.
Aktivitas perdagangan sendiri cenderung terbatas karena libur Natal dan Tahun Baru, dengan penyesuaian jam operasional di pasar London dan New York.
Relaksasi Regulasi Uni Eropa (EUDR)
Kabar melegakan bagi pelaku industri datang dari Uni Eropa. Pada 23 Desember 2025, Uni Eropa menerbitkan Peraturan 2025/2650 yang merevisi implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR). Poin krusial dari revisi ini adalah penundaan penerapan penuh aturan tersebut hingga 30 Desember 2026. Bahkan, pelaku usaha mikro dan kecil mendapatkan tambahan masa transisi selama enam bulan.
Langkah ini diambil untuk menyederhanakan proses dan memberikan waktu bagi operator serta pedagang untuk bersiap. Komisi Eropa juga diwajibkan melakukan evaluasi dampak dan beban administratif paling lambat April 2026, yang membuka peluang adanya penyesuaian legislasi lebih lanjut jika dirasa memberatkan.
Tantangan Pemulihan Pertanian Domestik
Di dalam negeri, fokus pemerintah dan legislatif tertuju pada penanganan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati Thohari, menyoroti kerusakan parah pada lahan pertanian akibat banjir. Meskipun prioritas utama saat ini adalah bantuan kemanusiaan (sandang, pangan, papan), Endang mengingatkan pentingnya rehabilitasi sektor perkebunan kopi yang merupakan komoditas ekspor andalan daerah tersebut.
Endang juga memberikan masukan strategis terkait bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Ia mendesak pemerintah tidak hanya mengirimkan alat baru, tetapi juga memfasilitasi bengkel perbaikan untuk alsintan yang rusak terendam banjir. Langkah ini dinilai krusial untuk menyelamatkan aset negara yang bernilai triliunan rupiah dan mempercepat pemulihan ekonomi petani kecil yang terdampak bencana.