Connect with us

Business

Dinamika Pasar Keuangan: Rekor IHSG di Tengah Depresiasi Rupiah dan Tekanan Global

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia.com Pasar keuangan Indonesia mengawali pekan ketiga Januari 2026 dengan fenomena yang sangat kontras. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan sejarah baru dengan menembus level tertinggi sepanjang masa (all-time high). Namun di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru terperosok ke titik terendahnya sepanjang sejarah, mendekati level psikologis Rp 17.000 per Dolar AS. Kondisi ini menciptakan situasi yang kompleks bagi investor, di mana euforia di pasar modal harus berhadapan dengan kecemasan di pasar valuta asing.

Pada perdagangan Senin (19/1/2026), IHSG ditutup menguat signifikan sebesar 0,64% ke posisi 9.133,87. Kenaikan ini didorong oleh volume transaksi yang sangat besar, mencapai Rp 35,92 triliun, dengan kapitalisasi pasar yang nyaris menyentuh angka fantastis US$ 1 triliun. Sektor energi dan properti menjadi penggerak utama penguatan indeks. Menariknya, aktivitas pasar didominasi oleh pergerakan saham-saham milik konglomerat ternama. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan nilai transaksi yang masif, sementara saham-saham di bawah bendera Prajogo Pangestu juga mengalami penguatan serentak. Tak ketinggalan, PT Astra International Tbk (ASII) memberikan kontribusi besar setelah mengumumkan rencana buyback saham untuk menstabilkan harga di tengah fluktuasi pasar.

Kontras dengan performa saham, Rupiah melemah 0,33% dan berakhir di level Rp 16.935 per Dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian global, terutama ancaman tarif impor baru yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland. Ancaman ini memicu kekhawatiran perang dagang baru yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah mengingatkan perbankan nasional untuk melakukan asesmen ketat terhadap risiko pasar ini, mengingat beberapa bank sudah mematok kurs jual Dolar AS di atas Rp 17.200.

Fokus pasar pada hari Selasa (20/1/2026) akan tertuju pada data ekonomi China dan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). China baru saja merilis data pertumbuhan PDB kuartal IV/2025 yang melambat menjadi 4,5%, mencerminkan tekanan di sektor properti dan lesunya daya beli masyarakat setempat. Kabar dari “Negeri Tirai Bambu” ini sangat krusial bagi Indonesia mengingat status China sebagai mitra dagang utama. Selain itu, BI diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur minggu ini. Langkah ini dinilai sebagai upaya defensif untuk menjaga selisih suku bunga dengan bank sentral AS (The Fed) sekaligus menahan laju depresiasi Rupiah yang kian mengkhawatirkan.

Secara keseluruhan, meskipun pasar saham sedang berada di puncak kejayaannya, bayang-bayang ketidakpastian dari kebijakan proteksionisme AS dan perlambatan ekonomi China tetap menjadi risiko utama. Para pelaku pasar kini harus lebih waspada dalam menyikapi manuver korporasi para konglomerat di tengah badai nilai tukar yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *