Business
Dinamika Industri Kakao Indonesia: Tantangan Global dan Upaya Peremajaan Nasional

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompascom Indonesia terus berupaya mempertahankan eksistensinya dalam peta industri cokelat global. Berdasarkan data International Cocoa Organization (ICCO) tahun 2022, Indonesia tercatat memberikan kontribusi sebesar 3 persen terhadap total produksi kakao dunia. Meskipun angka persentase ini terlihat minor jika dibandingkan dengan raksasa produsen lainnya, volume tersebut cukup untuk menempatkan Indonesia di peringkat ketujuh sebagai negara penghasil biji kakao terbesar di dunia. Posisi di Pasar Global dan Tren RegionalDalam lanskap global, dominasi pasar masih dipegang teguh oleh negara-negara Afrika. Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah, menjelaskan bahwa Pantai Gading dan Ghana adalah dua “raja” kakao dunia yang masing-masing menyumbang 43 persen dan 20 persen produksi global. Di atas posisi Indonesia, masih terdapat negara lain seperti Ekuador (7 persen), Kamerun (6 persen), Nigeria (6 persen), dan Brasil (4 persen). Kendati demikian, Indonesia memegang predikat prestisius sebagai produsen kakao nomor satu di tingkat Asia.
Namun, Soetanto memberikan catatan kritis mengenai tren regional. Berbeda dengan kawasan Afrika dan Amerika Latin yang menunjukkan grafik pertumbuhan produksi positif dalam lima belas tahun terakhir, negara-negara produsen di Asia justru mengalami tren penurunan produksi.Akar Masalah: Kualitas dan Regenerasi, tantangan yang dihadapi Indonesia tidak hanya sekadar kuantitas, melainkan juga kualitas. Mayoritas biji kakao yang dihasilkan di tanah air dinilai masih berkualitas rendah karena tidak melalui proses fermentasi (non-fermented). Masalah ini diperparah oleh faktor hulu, di mana sebagian besar tanaman kakao sudah berusia tua dan melewati masa produktif maksimalnya. Situasi ini berkelindan dengan faktor sumber daya manusia, di mana petani kakao yang ada saat ini mayoritas sudah lanjut usia, sementara regenerasi petani muda berjalan sangat lambat. Akibatnya, mekanisme untuk mendongkrak kembali angka produksi menjadi terhambat. Strategi Intervensi Pemerintah dan BPDP, merespons kondisi yang menantang ini, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan telah menyusun langkah strategis.

Adi Sucipto, Kepala Divisi Umum dan SDM BPDP, mengungkapkan rencana ambisius untuk melakukan peremajaan lahan kakao pada tahun depan. Target optimistis yang dicanangkan adalah peremajaan hingga 5.000 hektare lahan. Namun, dengan mempertimbangkan berbagai kendala di lapangan, Adi menyebutkan bahwa angka realisasi minimal yang diharapkan dapat tercapai berada di kisaran 1.200 hektare.Selain peremajaan fisik tanaman, BPDP juga merancang dukungan jangka menengah untuk tiga tahun ke depan berupa penguatan sarana dan prasarana. Fokus utamanya adalah penyediaan pupuk, mengingat harga pupuk non-subsidi yang tinggi sering menjadi keluhan utama para petani kakao dan menghambat produktivitas.Studi Kasus: Upaya Peremajaan di BaliUpaya perbaikan ini juga menggeliat di tingkat daerah. Di Provinsi Bali, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dewa Ayu Nyoman Budiasih, telah mengajukan permohonan bantuan benih ke pemerintah pusat melalui mekanisme e-proposal. Fokus utamanya adalah Kabupaten Jembrana dan Tabanan, di mana banyak tanaman kakao telah berusia lebih dari 20 tahun dan mulai rusak.Data tahun 2024 menunjukkan luas lahan kakao di Bali mencapai 13.398 hektare dengan total produksi 4.868 ton, atau rata-rata produktivitas 461 kg per hektare per tahun. Jembrana menjadi sentra terluas dengan 6.340 hektare, disusul Tabanan (4.529 hektare) dan Buleleng (1.169 hektare). Selain peremajaan tanaman tua, Bali juga memiliki potensi perluasan lahan baru di Jembrana dan Tabanan dengan total potensi mencapai 2.417 hektare, yang diharapkan dapat mendongkrak produksi kakao nasional di masa depan.







