Education
Dinamika Identitas Tionghoa: Antara Akulturasi, Pilihan Politik, dan Nasionalisme Indonesia

Semarang (usmnews) – Dikutip darikompas. com Persoalan mengenai jati diri etnik Tionghoa di Indonesia, yang belakangan sering disebut dengan istilah populer “Chindo”, kembali menjadi bahan diskusi mendalam, khususnya dalam kaitannya dengan semangat kebangsaan. Artikel ini mengulas hasil diskusi publik bertema “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” yang diselenggarakan pada akhir Februari 2026. Fokus utama dari pembahasan tersebut adalah bagaimana komunitas Tionghoa telah berevolusi melalui proses adaptasi yang sangat panjang di Nusantara, sehingga menciptakan identitas yang unik dan berbeda dari komunitas Tionghoa di belahan dunia lainnya.
Identitas yang Tidak Bersifat Tunggal

Salah satu poin krusial yang disampaikan oleh peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thung Julan, adalah bahwa identitas Tionghoa di Indonesia tidak pernah bersifat tunggal atau monolitik. Identitas ini merupakan hasil dari interaksi sosial yang dinamis, mulai dari tahap perkenalan awal, akulturasi, hingga proses asimilasi yang mendalam. Fenomena ini terlihat jelas pada kelompok “Peranakan”, yang lahir dari pernikahan lintas etnis dan percampuran budaya selama berabad-abad. Di beberapa daerah, seperti Banten, proses pembauran ini bahkan terjadi secara total, di mana komunitas Tionghoa telah menyatu sepenuhnya dengan masyarakat lokal.
Pilihan Antara “Totok” dan “Peranakan”
Keberagaman di dalam internal komunitas Tionghoa juga dipengaruhi oleh faktor pilihan personal dan latar belakang budaya. Terdapat kelompok “Totok” yang umumnya masih mempertahankan tradisi asli dan kemampuan berbahasa Mandarin yang kuat, sehingga memiliki orientasi kebudayaan yang lebih dekat dengan Tiongkok. Di sisi lain, kelompok “Peranakan” cenderung merasa lebih jauh dari tradisi daratan Tiongkok dan lebih merasa sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya lokal Indonesia. Thung Julan menekankan bahwa dalam situasi ini, masyarakat Tionghoa harus bijaksana dalam menentukan posisi mereka. Ia menekankan pentingnya bagi setiap individu Tionghoa untuk memandang diri mereka sebagai orang Indonesia seutuhnya, terutama saat bersinggungan dengan isu-isu yang berkaitan dengan negara Tiongkok.
Komitmen Politik dan Adaptasi Budaya
Sejalan dengan pemikiran tersebut, Johanes Herlijanto dari Forum Sinologi Indonesia (FSI) menegaskan bahwa menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah sebuah keputusan politik yang sadar dan berdaulat. Mengutip pandangan Profesor Wang Gungwu, ia menjelaskan bahwa masyarakat Tionghoa di luar Tiongkok memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Uniknya, di Indonesia terjadi hubungan timbal balik: budaya Tionghoa tidak hanya memberi warna pada kebudayaan nasional, tetapi budaya daerah di Indonesia pun secara signifikan memengaruhi tradisi Tionghoa itu sendiri. Hasilnya adalah sebuah entitas kebudayaan baru yang spesifik “Indonesia”, yang tidak akan ditemukan di Tiongkok maupun negara Asia Tenggara lainnya.

Kesimpulan
Diskusi ini membawa pesan kuat bahwa narasi mengenai “Chindo” atau Tionghoa harus diletakkan dalam bingkai besar keindonesiaan. Identitas etnik tersebut bukanlah penghalang bagi nasionalisme, melainkan kekayaan budaya yang memperkuat fondasi bangsa. Melalui akulturasi yang tulus dan komitmen politik yang teguh, komunitas Tionghoa terus membuktikan bahwa mereka adalah bagian integral dari perjalanan sejarah dan masa depan Indonesia. Pemahaman akan sejarah panjang pembauran ini sangat penting untuk menjaga harmoni sosial di tengah derasnya arus pengaruh global saat ini.







