Connect with us

Tech

Dilema Mobil Listrik dan Peran Strategis Teknologi Hybrid dalam Dekarbonisasi di Indonesia

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Perdebatan mengenai efektivitas kendaraan ramah lingkungan dalam mengurangi jejak karbon global kembali memanas seiring dengan analisis mendalam terhadap sumber energi yang digunakan.

Berdasarkan laporan dari Detik Oto, muncul sebuah tesis yang menyatakan bahwa selama sektor hulu atau pembangkit listrik suatu negara masih didominasi oleh batu bara (PLTU), maka penggunaan mobil hybrid justru menjadi solusi yang paling menguntungkan dan realistis dalam upaya menekan emisi karbon dibandingkan dengan mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV).

Paradoks Mobil Listrik di Grid Batu Bara

Poin utama yang diangkat dalam artikel tersebut berkaitan dengan konsep well-to-wheel atau pemantauan emisi dari sumber energi hingga ke putaran roda. Banyak pihak sering kali hanya melihat emisi yang keluar dari knalpot (tailpipe emission). Secara kasat mata, mobil listrik memang tidak mengeluarkan asap, namun jika listrik yang digunakan untuk mengisi daya baterai berasal dari pembakaran batu bara, maka emisi tersebut sebenarnya hanya “berpindah” dari jalanan ke area pembangkit listrik. Di negara-negara yang transisi energi hijaunya belum tuntas, mobil listrik murni masih menyisakan jejak karbon yang signifikan pada tahap produksinya.

Mengapa Mobil Hybrid Lebih Menguntungkan Saat Ini?

Mobil hybrid (HEV) menggabungkan mesin pembakaran internal dengan motor listrik dan baterai yang tidak memerlukan pengisian daya eksternal. Keunggulan utama teknologi ini terletak pada efisiensinya dalam mengolah bahan bakar fosil. Melalui sistem regenerative braking dan pengaturan daya otomatis, mobil hybrid dapat menghemat konsumsi BBM secara drastis dibandingkan mobil konvensional.

Artikel tersebut menekankan beberapa alasan mengapa hybrid dianggap paling menguntungkan untuk saat ini:

  1. Reduksi Emisi Signifikan: Meskipun tetap menggunakan bensin, teknologi hybrid mampu mereduksi emisi CO2 hingga 40-50% lebih rendah dibanding mobil standar. Ini merupakan langkah instan yang sangat efektif tanpa membebani infrastruktur kelistrikan nasional yang masih bergantung pada batu bara.
  2. Kemandirian Infrastruktur: Mobil hybrid tidak memerlukan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang masif. Hal ini membuatnya sangat adaptif untuk digunakan di wilayah Indonesia yang sangat luas dengan infrastruktur pengisian daya yang belum merata.
  3. Hambatan Biaya yang Lebih Rendah: Secara ekonomi, harga mobil hybrid cenderung lebih terjangkau bagi masyarakat luas dibandingkan mobil listrik murni yang harga baterainya masih sangat mahal. Hal ini memungkinkan adopsi massal secara lebih cepat untuk mulai mengurangi emisi secara kolektif.

Solusi Jembatan Menuju Net Zero Emission

Teknologi hybrid dipandang sebagai “jembatan” yang paling logis dalam peta jalan menuju emisi nol bersih (Net Zero Emission). Sambil menunggu pemerintah mengalihkan sumber energi nasional dari batu bara ke energi terbarukan (seperti tenaga surya, angin, atau panas bumi), penggunaan mobil hybrid memastikan bahwa pengurangan emisi tetap terjadi secara masif tanpa menciptakan masalah baru di sektor hulu energi.

Kesimpulan

Strategi dekarbonisasi tidak bisa dilakukan secara serampangan hanya dengan memaksakan adopsi mobil listrik murni jika ekosistem energinya belum siap. Artikel tersebut secara cerdas mengingatkan bahwa dalam konteks Indonesia saat ini, mobil hybrid menawarkan keseimbangan terbaik antara efisiensi biaya, kemudahan penggunaan, dan dampak positif terhadap lingkungan. Pilihan ini memungkinkan pengurangan polusi udara di perkotaan secara langsung sambil memberikan waktu bagi sektor energi untuk berbenah menuju sumber listrik yang benar-benar bersih di masa depan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *