Connect with us

Lifestyle

Dilema Kuliner: Mengupas Keamanan dan Kelayakan Ikan Sapu-sapu untuk Dikonsumsi

Published

on

Semarang ( usmnews ) – Dikutip dari Kompas.com Ikan sapu-sapu, spesies yang sering kita jumpai di berbagai perairan tawar Indonesia, kerap menjadi perdebatan di kalangan masyarakat mengenai keamanannya untuk dikonsumsi. Meskipun ada sebagian orang yang mengolahnya menjadi hidangan, pertanyaan besar tetap muncul: apakah ikan ini benar-benar aman bagi tubuh, atau justru menyimpan bahaya tersembunyi? Untuk menjawab keraguan ini, Indonesian Gastronomy Chef, Ragil Imam Wibowo, memberikan pandangan profesionalnya dari sudut pandang kuliner maupun kesehatan lingkungan.

Secara umum, Chef Ragil mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu bukanlah pilihan populer di dunia kuliner profesional. Alasannya bukan hanya soal rasa, tetapi juga tingkat kesulitan dalam pengolahannya. Ikan ini memiliki karakteristik fisik yang cukup menantang; kulitnya keras dan dagingnya memerlukan teknik khusus untuk dibersihkan. Selain itu, aroma dagingnya cenderung berbau tanah dan amis yang kuat. Dalam prinsip kuliner, jika sebuah bahan baku membutuhkan usaha (effort) yang sangat besar untuk diolah namun hasil akhirnya tidak memberikan rasa yang istimewa atau luar biasa, maka bahan tersebut dianggap kurang layak untuk dijadikan prioritas. Kecuali jika bahan tersebut menawarkan cita rasa yang sangat unik dan lezat, para juru masak mungkin akan mempertimbangkannya, namun hal ini tidak berlaku bagi ikan sapu-sapu yang rasanya dinilai biasa saja dibandingkan jenis ikan lainnya.

Namun, faktor yang paling krusial untuk diperhatikan bukanlah sekadar rasa atau tekstur, melainkan habitat dan fungsi alami ikan ini. Chef Ragil menekankan bahwa secara biologis, ikan sapu-sapu bertugas sebagai “pembersih” di ekosistemnya. Ikan ini hidup dengan cara menyerap kotoran dan berbagai zat yang ada di lingkungannya. Inilah yang menjadi pedang bermata dua. Jika ikan sapu-sapu hidup di lingkungan yang terkontrol, bersih, dan memiliki air yang mengalir—seperti dalam penangkaran atau tambak khusus—maka dagingnya bisa dikatakan aman untuk dikonsumsi karena asupan makanannya terjaga.

Sayangnya, realitas di lapangan sering kali berbeda. Banyak ikan sapu-sapu yang ditangkap dan beredar di pasaran berasal dari sungai-sungai yang telah tercemar limbah. Karena sifat alaminya yang menyerap segala zat di sekitarnya, ikan yang hidup di perairan kotor akan mengakumulasi racun dan logam berat, seperti merkuri, di dalam tubuhnya. Mengonsumsi ikan dari lingkungan seperti ini sangat berisiko bagi kesehatan manusia dalam jangka panjang. Zat berbahaya yang telah diserap oleh ikan akan berpindah ke tubuh manusia yang memakannya.

Oleh karena itu, Chef Ragil sangat menyarankan masyarakat untuk berhati-hati. Jika tidak yakin dengan asal-usulnya, atau jika diketahui ikan tersebut berasal dari sungai yang kotor, sebaiknya hindari mengonsumsinya. Sebagai alternatif yang lebih bijak, ia merekomendasikan jenis ikan lain yang jauh lebih aman, mudah didapat, dan memiliki rasa yang terjamin lezat, seperti ikan lele atau ikan ekor kuning. Kedua jenis ikan ini memiliki harga yang relatif terjangkau dan risiko kontaminasi yang jauh lebih rendah karena umumnya dibudidayakan atau ditangkap di perairan yang lebih bersih. Kesimpulannya, meskipun secara teknis bisa dimakan, risiko kesehatan dari ikan sapu-sapu liar di perairan tercemar jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *