Lifestyle
Dilema Etika: 5 Sikap yang Dianggap Sopan oleh Karyawan Namun Justru Menjadi “Red Flag” bagi HRD
Semarang (usmnews) – Dikutip cnbcindonesia.com Bagi banyak pencari kerja maupun karyawan, menampilkan citra diri yang sopan dan santun adalah sebuah kewajiban moral untuk menciptakan impresi positif. Dalam dunia profesional, perilaku halus sering kali dianggap sebagai kunci utama untuk memenangkan hati atasan maupun pihak HRD (Human Resources Department). Namun, realita di lapangan terkadang berkata sebaliknya. Ada batasan tipis antara bersikap sopan dengan menunjukkan ketidakpastian diri. Beberapa kebiasaan yang diniatkan untuk menghormati orang lain justru sering kali disalahartikan sebagai tanda kurangnya kompetensi atau kepercayaan diri.
Berikut adalah lima kebiasaan “sopan” yang sebaiknya mulai Anda evaluasi karena berpotensi merugikan karier Anda di mata HRD:
- Budaya “Terlalu Sering Meminta Maaf”: Meminta maaf atas kesalahan nyata adalah bentuk integritas. Namun, jika kata “maaf” diucapkan untuk hal-hal sepele atau bahkan saat Anda tidak bersalah (seperti saat ingin bertanya atau berpendapat), hal ini akan menjadi bumerang. Di mata HRD, kebiasaan ini mencerminkan sosok yang kurang percaya diri dan ragu akan kemampuannya sendiri. Daripada terus-menerus meminta maaf, cobalah menggantinya dengan pernyataan yang lebih asertif dan penuh apresiasi, seperti mengucapkan terima kasih atas waktu yang diberikan.
- Keengganan Melakukan Kontak Mata: Dalam budaya tertentu, menunduk saat berbicara dengan orang yang lebih senior dianggap sebagai tanda hormat. Namun, dalam konteks profesional global, menghindari kontak mata justru menciptakan kesan bahwa Anda sedang menyembunyikan sesuatu, tidak jujur, atau merasa terintimidasi. HRD sangat menghargai kandidat yang mampu menatap lawan bicara dengan proporsional. Kontak mata yang terjaga menunjukkan bahwa Anda adalah pribadi yang terbuka, tulus, dan siap untuk berkolaborasi secara setara.
- Terjebak dalam Narasi Kehebatan Diri: Sering kali demi terlihat sopan dan bersemangat, seseorang terlalu banyak menceritakan pencapaian pribadinya tanpa henti. Niatnya mungkin agar HRD merasa yakin akan kualitas Anda, namun jika dilakukan berlebihan tanpa memberikan ruang bagi lawan bicara, Anda akan terlihat egois dan kurang rendah hati. HRD lebih tertarik pada bagaimana kehebatan Anda tersebut bisa diimplementasikan untuk kemajuan tim dan perusahaan, bukan sekadar daftar panjang prestasi yang narsistik.
- Memberikan Pujian yang Berlebihan: Sikap ramah dengan memberikan pujian memang bisa mencairkan suasana. Namun, pujian yang datang bertubi-tubi dan terasa dipaksakan justru akan menimbulkan kecurigaan. HRD yang berpengalaman dapat merasakan apakah pujian tersebut tulus atau hanya sekadar upaya untuk menjilat. Fokuslah pada percakapan yang substantif dan relevan dengan pekerjaan. Profesionalitas jauh lebih dihargai daripada upaya berlebihan untuk menyenangkan hati orang lain secara artifisial.
- Selalu Menunggu Instruksi dan Persetujuan:Banyak karyawan merasa bahwa menanyakan segala sesuatu kepada atasan adalah bentuk rasa hormat terhadap birokrasi. Padahal, jika Anda harus meminta izin untuk setiap detail kecil, Anda akan terlihat sebagai orang yang tidak mandiri dan takut mengambil risiko. HRD mencari individu yang memiliki inisiatif tinggi dan mampu mengambil keputusan secara mandiri. Menunjukkan bahwa Anda memiliki pemikiran yang matang tanpa harus selalu disuapi arahan akan memberikan nilai tambah yang besar bagi karier Anda.
Kesopanan tetaplah elemen penting dalam bekerja, namun harus dibarengi dengan ketegasan dan kepercayaan diri. Jangan biarkan keramahan Anda menutupi kompetensi yang Anda miliki. Dengan menghindari lima kesalahan di atas, Anda akan terlihat sebagai profesional yang tidak hanya beretika, tetapi juga memiliki karakter yang kuat di mata perusahaan.