Tech
Dilema Digital: Mengapa HP di Sekolah Lebih Banyak Digunakan untuk Hiburan?
Semarang (usmnews) – Dikutip dari teknokompas.com Sebuah studi terbaru yang dirilis pada awal tahun 2026 menyoroti fenomena yang cukup mengkhawatirkan di lingkungan pendidikan: penggunaan ponsel pintar (smartphone) oleh siswa di sekolah ternyata jauh lebih didominasi oleh aktivitas hiburan ketimbang tujuan pembelajaran. Meskipun awalnya teknologi masuk ke ruang kelas dengan janji untuk mendemokrasikan informasi dan memperkaya sumber belajar, data menunjukkan bahwa distraksi digital masih menjadi tantangan utama yang sulit dibendung.
Kontradiksi Antara Fungsi dan Realita
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa mayoritas siswa menghabiskan waktu mereka di depan layar untuk mengakses media sosial, bermain game, atau menonton video pendek selama jam pelajaran maupun waktu istirahat. Hal ini berbanding terbalik dengan harapan para pendidik yang menginginkan gawai digunakan sebagai alat riset, akses ke buku elektronik, atau platform kolaborasi tugas.
Beberapa poin utama dari temuan tersebut meliputi:
• Dominasi Media Sosial: Platform seperti TikTok, Instagram, dan aplikasi pesan instan menjadi “pencuri waktu” utama bagi siswa di kelas.
• Kurangnya Pengawasan Terintegrasi: Banyak sekolah yang memperbolehkan membawa HP namun belum memiliki sistem pengawasan atau kurikulum digital yang mampu mengunci fokus siswa pada materi pelajaran.
• Efek Dopamin: Sifat konten hiburan yang instan memberikan kepuasan cepat bagi otak siswa, yang membuat materi pelajaran yang bersifat kognitif berat terasa kurang menarik.
Dampak Terhadap Kualitas Belajar
Masalah ini bukan sekadar soal siswa yang “tidak memperhatikan,” tetapi juga berdampak pada kapasitas kognitif mereka. Ketika ponsel lebih sering digunakan untuk hiburan, terjadi penurunan atensi berkelanjutan (sustained attention). Siswa menjadi lebih mudah terdistraksi dan sulit untuk mendalami materi yang membutuhkan pemikiran kritis dan konsentrasi tinggi.
Selain itu, studi tersebut mencatat adanya fenomena multitasking semu. Banyak siswa merasa bisa belajar sambil sesekali mengecek notifikasi, padahal secara neurologis, otak mereka terus berpindah fokus, yang mengakibatkan penyerapan informasi menjadi tidak maksimal dan dangkal.
Tantangan Bagi Kebijakan Sekolah
Laporan ini memicu kembali perdebatan lama: apakah ponsel harus dilarang sepenuhnya atau diregulasi dengan ketat? Di satu sisi, pelarangan total dianggap langkah mundur di era digital. Namun di sisi lain, membiarkan penggunaan tanpa kendali terbukti menurunkan efektivitas belajar.
Para ahli dalam studi tersebut menyarankan bahwa solusinya bukan sekadar pada perangkatnya, melainkan pada literasi digital. Sekolah perlu menciptakan lingkungan di mana teknologi digunakan secara terstruktur, misalnya melalui platform pembelajaran yang memang mengharuskan interaksi aktif, sehingga celah untuk beralih ke aplikasi hiburan dapat diminimalisir.
Ringkasan Analitis
Secara keseluruhan, artikel tersebut mengingatkan kita bahwa keberadaan teknologi di sekolah adalah pisau bermata dua. Tanpa integrasi yang tepat dan pengawasan yang konsisten, ponsel pintar justru berisiko menjadi penghambat perkembangan intelektual siswa alih-alih menjadi alat pendukung kesuksesan akademik.