Connect with us

Nasional

Darurat Pendidikan: Ratusan Siswa SDN Tlagah 2 Terpaksa Belajar di Teras Warga Akibat Sekolah Rusak Berat

Published

on

Semarang (usmnews) – dikutip dari Kompas.com Dunia pendidikan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, sedang menghadapi ujian berat di awal tahun 2026. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDN Tlagah 2, Kecamatan Galis, terpaksa dilakukan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ratusan siswa tidak lagi dapat menempati ruang kelas mereka yang nyaman, melainkan harus menumpang belajar di teras-teras rumah warga sekitar. Keputusan drastis ini diambil setelah bangunan sekolah mengalami kerusakan parah akibat hantaman cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.

Kronologi Kerusakan dan Evakuasi Siswa Kepala Sekolah SDN Tlagah 2, Fatmawati, menjelaskan bahwa kerusakan infrastruktur sekolah terjadi secara bertahap namun fatal. Insiden bermula pada Senin (12/1/2026), di mana plafon ruang kelas 6 runtuh akibat tidak kuat menahan beban dan terjangan cuaca. Situasi semakin memburuk pada hari berikutnya, Selasa (13/1/2026), ketika atap ruang kelas 4 ikut jebol.

Melihat kondisi bangunan yang semakin membahayakan keselamatan jiwa, pihak sekolah memutuskan untuk mengosongkan tiga ruang kelas, yakni kelas 4, 5, dan 6. Meskipun ruang kelas 5 belum mengalami kerusakan fisik yang parah seperti dua kelas lainnya, posisinya yang terjepit di antara ruang kelas 4 dan kelas 6 membuat risiko kerusakan merambat sangat tinggi. Demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, siswa kelas 5 pun turut dievakuasi.

“Kondisinya sangat berbahaya. Kemarin plafon kelas 6 yang runtuh, hari ini giliran atap kelas 4 yang jebol. Kami tidak ingin mengambil risiko,” ujar Fatmawati saat memberikan keterangan di Bangkalan, Selasa (13/1/2026).

Solusi Darurat: Teras Rumah Sebagai Kelas Sebagai solusi sementara agar proses pembelajaran tidak terhenti total, pihak sekolah berinisiatif meminjam teras rumah warga. Fatmawati bahkan merelakan teras rumah pribadinya, yang kebetulan berlokasi tidak jauh dari sekolah, untuk dijadikan tempat belajar bagi siswa kelas 6. Sementara itu, siswa kelas 4 dan kelas 5 ditempatkan di teras rumah warga lainnya.

Total terdapat sekitar 110 siswa dari tiga tingkatan kelas tersebut yang harus menjalani proses belajar secara “lesehan” dan darurat. Rinciannya meliputi 30 siswa dari kelas 6, serta masing-masing 40 siswa dari kelas 4 dan kelas 5. Jika diakumulasikan, SDN Tlagah 2 memiliki total 248 siswa yang kini aktivitas pendidikannya terganggu akibat bencana ini.

Infrastruktur Tua dan Minim Perawatan Kerusakan yang terjadi di SDN Tlagah 2 ternyata tidak hanya menimpa ruang kelas. Fatmawati mengungkapkan fakta baru bahwa ruang guru juga ditemukan ambruk pada Selasa pagi. Ia mengakui bahwa rapuhnya bangunan sekolah bukan semata-mata karena faktor cuaca ekstrem belakangan ini, melainkan juga karena usia bangunan yang sudah tua. Kondisi fisik sekolah memang sudah lama memprihatinkan dan sangat membutuhkan renovasi, namun perbaikan yang diharapkan tak kunjung terealisasi hingga bencana terjadi.

“Saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali sekolah ini diperbaiki. Sudah lama sekali tidak ada renovasi,” keluhnya, menggambarkan betapa lamanya infrastruktur pendidikan tersebut terabaikan.

Respon Dinas Pendidikan Menanggapi krisis fasilitas pendidikan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan segera memberikan respons. Kepala Bidang Pembinaan SD, Ali Yusri Purwanto, menyatakan komitmennya untuk segera menangani kerusakan di SDN Tlagah 2. Pihaknya berjanji akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi guna memverifikasi tingkat kerusakan dan merencanakan langkah perbaikan.

“Insya Allah sekolah tersebut akan mendapatkan program rehabilitasi. Kami akan segera turun ke lapangan untuk meninjau kondisinya secara langsung,” janji Ali.

Langkah cepat dari pemerintah daerah kini sangat dinantikan oleh para guru, orang tua, dan terutama para siswa yang berhak mendapatkan fasilitas belajar yang aman dan layak, tanpa harus dihantui rasa takut tertimpa reruntuhan atap sekolah mereka sendiri.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *