Sports
Cerita Fedor, Suporter Militan Kolombia yang Kaget dengan Dinginnya Atmosfer Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat
Seamarang(usmnews) – Geliat turnamen akbar Piala Dunia 2026 memicu beragam cerita unik dari para pencinta sepak bola di seluruh dunia. Salah satunya datang dari Fedor, seorang suporter fanatik asal Barranquilla, Kolombia. Demi menyalurkan kecintaannya pada si kulit bundar, Fedor rela merogoh kocek sangat dalam. Tidak tanggung-tanggung, ia menghabiskan dana sekitar 6.000 dollar AS atau setara dengan Rp106 juta hanya untuk mengamankan tiket pertandingan.
Fedor tidak melakukan perjalanan ini sendirian. Ia memboyong serta istri dan seorang anaknya yang sama-sama berstatus sebagai pendukung setia tim nasional Kolombia sekaligus klub lokal Atletico Junior. Sejauh bergulirnya kompetisi, Fedor tercatat telah menyaksikan langsung empat pertandingan di dua negara tuan rumah yang berbeda, yaitu:
- Meksiko: Menyaksikan perjuangan James Rodriguez dan kawan-kawan saat menumbangkan Uzbekistan di Stadion Azteca yang legendaris.
- Amerika Serikat: Menonton laga seru antara Inggris melawan Ghana, Norwegia kontra Prancis, serta duel Ekuador menghadapi Curaçao yang digelar di Kansas City.
Selain harga tiket pertandingan yang selangit, Fedor juga menyoroti mahalnya biaya operasional dan transportasi di Amerika Serikat. Pria yang sebelumnya juga pernah berburu atmosfer Piala Dunia 2014 di Brasil dan Piala Dunia 2018 di Rusia ini memberikan contoh konkret mengenai tingginya biaya logistik di sana. Untuk perjalanan pulang pergi menggunakan kereta dari pusat Kota Boston menuju Stadion Foxborough saja, ia harus mengeluarkan uang sebesar 80 dollar AS (sekitar Rp1,4 juta) per orang. Biaya tersebut tentu menjadi beban tambahan yang cukup menguras dompet bagi para turis asing.
Kontras Budaya Suporter: Minim Antusiasme di Amerika Serikat
Sebagai seorang suporter yang terbiasa memberikan dukungan secara total, Fedor merasa ada yang janggal dengan atmosfer sepak bola di Negeri Paman Sam. Pria yang kerap mengecat seluruh kepalanya dengan warna bendera Kolombia (kuning, biru, merah) atau warna Atletico Junior (merah dan putih) ini merasa seperti salah tempat ketika berada di Amerika Serikat. Ia menilai bahwa kultur dan gairah masyarakat AS terhadap sepak bola masih sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang pernah ia kunjungi.
“Jika saya bandingkan dengan Piala Dunia sebelum-sebelumnya, di sini berbeda. Saya pernah menonton laga Amerika Serikat di sebuah kafe. Ketika gol, mereka seperti tak peduli dan berlalu begitu saja,” ungkap Fedor saat diwawancarai di kawasan Times Square, New York.
Ketiadaan gairah yang meledak-ledak dari suporter lokal ini membuat pengalaman menonton di stadion terasa kurang menggigit bagi Fedor. Ia merindukan nyanyian, sorak-sorai, dan ketegangan emosional yang biasa menyelimuti setiap sudut kota selama pesta sepak bola terbesar di jagat raya ini berlangsung.
Kualitas Pertandingan Tetap Jadi Penyelamat Pengalaman
Kendati harus menghadapi kenyataan pahit berupa biaya hidup yang mahal dan suporter lokal yang kurang bergairah, Fedor mengaku tidak menyesal. Satu-satunya elemen yang berhasil menyelamatkan liburannya adalah kualitas permainan di atas lapangan hijau itu sendiri. Secara dramatis, aksi-aksi memukau dari para bintang dunia berhasil membayar lunas segala kekecewaan dan pengorbanan materi yang telah ia keluarkan.
Saat ini, pria yang namanya terinspirasi dari sastrawan tersohor asal Rusia, Fyodor Dostoevsky, tersebut sedang disibukkan dengan agenda baru. Ia tengah berburu tiket untuk babak 32 besar yang mempertemukan Kolombia dengan Ghana di Kansas City. Fedor berharap, seiring masuknya turnamen ke fase gugur yang krusial, tensi pertandingan dan atmosfer di sekitar stadion bisa jauh lebih hidup dan mencerminkan kemegahan Piala Dunia yang sesungguhnya.