Education
Bukan Sekadar P3K: Wamen Dikdasmen Dorong UKS Jadi Pusat Layanan Kesejahteraan Fisik dan Mental Pelajar.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Rizal Ul Haq, baru-baru ini menyuarakan seruan mendesak mengenai pentingnya revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Menurutnya, memperkuat peran UKS adalah sebuah langkah krusial dan mendasar dalam upaya kolektif untuk menciptakan sebuah ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademis, tetapi juga sehat, holistik, dan bermakna bagi setiap peserta didik.
Dalam sebuah pernyataan tertulis yang disampaikan di Jakarta pada hari Rabu, Fajar Rizal Ul Haq menegaskan bahwa isu yang dibahas jauh melampaui kepentingan sesaat, melainkan menyangkut investasi jangka panjang bagi bangsa. “Yang kita bicarakan hari ini bukan soal diri kita, tapi masa depan anak-anak kita. Revitalisasi UKS adalah bagian dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia untuk masa depan,” ujarnya, menempatkan UKS sebagai komponen vital dalam mencetak SDM unggul.
Ia menjelaskan bahwa hubungan erat antara pendidikan dan kesehatan telah terjalin kuat sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia. Secara historis, UKS memiliki peran yang sangat penting sebagai jembatan penghubung antara lingkungan sekolah dan pusat layanan kesehatan primer masyarakat, yaitu Puskesmas. Namun, Wamendikdasmen mengakui dengan jujur bahwa dalam beberapa dekade terakhir, fungsi dan peran vital UKS mengalami penurunan yang signifikan, sehingga kini mendesak untuk diperkuat dan dihidupkan kembali melalui proses revitalisasi.
Fajar menekankan bahwa pemaknaan UKS harus diubah secara radikal. Sudah saatnya menghilangkan pandangan sempit yang hanya menganggap UKS sebagai “ruang penyimpanan alat P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan).” Sebaliknya, ia mendorong agar UKS bertransformasi menjadi pusat layanan kesehatan sekolah yang komprehensif, yang secara aktif memperhatikan dan menangani tiga dimensi kesejahteraan anak: fisik, psikologis, dan sosial.
Lebih lanjut, Wamendikdasmen menyoroti berbagai tantangan kontemporer yang kini dihadapi oleh anak dan remaja Indonesia. Tantangan tersebut mencakup meningkatnya prevalensi masalah kesehatan mental, seperti stres dan kecemasan, serta tren penurunan signifikan dalam aktivitas fisik di kalangan pelajar sebuah gaya hidup yang berpotensi memicu masalah kesehatan kronis di masa depan. Dalam konteks ini, UKS diposisikan sebagai pintu awal pendampingan dan deteksi dini bagi peserta didik yang menghadapi kesulitan, sekaligus berperan strategis dalam memperkuat sinergi dan rujukan yang efektif dengan Puskesmas.
Selain itu, Fajar Rizal Ul Haq secara eksplisit mengaitkan peran UKS dengan program unggulan nasional, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan inisiatif prioritas dari Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa peran UKS dalam program ini jauh melampaui sekadar logistik. “Program MBG bukan hanya tentang memberi makan, tapi juga mengajarkan anak makan dengan kesadaran penuh, mindful eating. Ini bagian dari pembelajaran mendalam dan pendidikan holistik yang menjadi arahan Pak Menteri Abdul Mu’ti,” paparnya, menunjukkan bahwa UKS berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan literasi gizi dan praktik hidup sehat.
Mengingat kompleksitas tantangan yang ada, Wamendikdasmen menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Baginya, menghasilkan pendidikan yang bermutu tinggi tidak lagi hanya diukur dari capaian nilai akademik semata, tetapi juga dari tingkat kesejahteraan dan kesehatan anak secara menyeluruh di lingkungan sekolah. “Revitalisasi UKS adalah langkah awal penting menuju generasi Indonesia emas di tahun 2045,” tegasnya optimis, menyimpulkan bahwa penguatan UKS adalah fondasi esensial untuk mewujudkan cita-cita bangsa.






