Entertainment
Bukan Sekadar Akting, Ambisi Ajil Ditto Menjajal Kursi Sutradara dan Resolusi 2026
Semarang (usmnews ) -Dikutip dari detik.com Memasuki tahun 2026, aktor muda berbakat Ajil Ditto tidak hanya sekadar menyusun daftar keinginan klise, melainkan telah merancang peta jalan karier yang lebih serius dan transformatif. Saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Ajil menjabarkan visi besarnya untuk tahun ini yang mencakup peningkatan kualitas hidup secara personal, finansial, hingga ekspansi profesional di industri perfilman.
Secara umum, resolusi Ajil masih menyentuh aspek-aspek mendasar yang didambakan banyak orang: menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya, menambah aset berupa properti dan kendaraan, serta keinginan spiritual untuk kembali menunaikan ibadah Umrah. Namun, sorotan utama dari target tahun 2026-nya adalah keinginan kuat untuk keluar dari zona nyaman. Ajil secara terbuka menyatakan ambisinya untuk menjajal peran di balik layar, yakni sebagai sutradara atau produser.
Keinginan untuk beralih profesi atau setidaknya menambah peran ini bukanlah impuls sesaat. Ajil mengakui bahwa hasrat tersebut telah terpendam selama dua hingga tiga tahun terakhir. Meski demikian, ia memilih pendekatan yang pragmatis dan realistis. Aktor yang namanya kian melambung ini menyadari pentingnya fondasi finansial sebelum mengambil risiko di bidang baru. Strateginya saat ini adalah memaksimalkan pendapatannya sebagai aktor “syuting-syuting dulu” untuk mengumpulkan modal, sehingga ketika ia memutuskan terjun menjadi sutradara atau produser, ia melakukannya dalam kondisi finansial yang aman dan stabil.
Menariknya, preferensi genre yang ingin digarap Ajil mengalami pergeseran. Awalnya, ia sangat tertarik menggarap film bergenre drama. Namun, keterlibatannya dalam film sukses “Believe” mengubah perspektifnya secara drastis. Pengalaman syuting film tersebut memantik ketertarikannya pada genre laga (action). Ia merasa bahwa menjadi sutradara untuk film aksi memiliki tantangan dan keseruan tersendiri yang berbeda dari drama.
Kendati memiliki ambisi besar, Ajil menolak untuk terburu-buru (impulsif). Ia menerapkan prinsip kehati-hatian dalam membangun portofolionya sebagai sutradara. Alih-alih langsung menggarap film panjang yang berisiko tinggi, ia berencana memulai dari proyek skala kecil, seperti film pendek atau serial web (web series). Langkah “step by step” ini diambil untuk meminimalkan risiko kegagalan yang dapat mencoreng rekam jejaknya. Ia berprinsip lebih baik belajar dari kesalahan di proyek kecil daripada gagal total (flop) di proyek besar yang dapat merusak reputasinya.
Sikap pragmatis Ajil juga tercermin dari caranya menghabiskan momen pergantian tahun baru 2026. Di saat selebritas lain mungkin berbondong-bondong liburan ke luar negeri, Ajil memilih untuk tetap berada di Jakarta. Keputusan ini didasari oleh adanya tawaran proyek baru yang dimulai pada awal Januari. Bagi Ajil, lebih masuk akal untuk “mendapatkan uang” daripada “menghamburkan uang” di masa liburan.
Selain alasan pekerjaan, Ajil juga memiliki alasan unik mengapa ia betah di Jakarta saat musim liburan. Ia mengaku sangat menikmati suasana ibu kota yang lengang saat ditinggal mudik atau berlibur oleh sebagian besar penduduknya. Baginya, jalanan Jakarta yang “plong” dan bebas macet saat Tahun Baru dan Lebaran adalah sebuah kemewahan tersendiri yang menjadi impiannya, di mana ia bisa bepergian ke mana saja dengan cepat dan merayakan momen tersebut secara sederhana di kafe bersama teman-teman terdekatnya.