Connect with us

Nasional

BMKG Ungkap Sesar West Java Back Arc Sebagai Pemicu Gempa Bekasi

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Ketenangan warga di wilayah Kabupaten Bekasi dan sekitarnya sempat terganggu pada Senin pagi (26/1). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sebuah gempa bumi tektonik telah mengguncang kawasan tersebut tepat pada pukul 08.29 WIB. Peristiwa ini segera menjadi perhatian publik karena terjadi di daratan yang padat penduduk, meskipun kekuatan gempanya tergolong kecil.

‎Analisis Tektonik dan Sumber Gempa Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto, memberikan penjelasan teknis mengenai fenomena ini. Berdasarkan analisis lokasi episenter (titik pusat gempa di permukaan bumi) dan kedalaman hiposenternya, gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa bumi dangkal. Penyebab utamanya adalah aktivitas sesar aktif yang berada di kawasan tersebut.

‎Titik pusat gempa terdeteksi berada pada koordinat 6,38 Lintang Selatan dan 107,17 Bujur Timur. Lokasi persisnya berada di darat, hanya berjarak sekitar 2 kilometer arah Selatan dari Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Yang membuat getaran ini cukup terasa adalah kedalamannya yang sangat dangkal, yakni hanya 7 kilometer di bawah permukaan tanah. Dalam ilmu seismologi, gempa yang sangat dangkal seperti ini cenderung dirasakan lebih kuat oleh penduduk di sekitar episenter meskipun magnitudonya tidak terlalu besar, yaitu M2,7.

‎Identifikasi Sesar Spesifik Melengkapi analisis tersebut, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan detail lebih spesifik mengenai pemicu geologis gempa ini. Ia menyebutkan bahwa pergerakan tanah tersebut disebabkan oleh aktivitas sesar West Java Back Arc Thrust. Secara lebih presisi, segmen yang bergerak adalah Citarum Front Segment. Identifikasi ini penting untuk pemetaan potensi kerawanan bencana di wilayah Jawa Barat bagian utara ke depannya.

‎Dampak yang Dirasakan Warga Guncangan akibat aktivitas sesar ini dilaporkan terasa hingga ke wilayah Cikarang dan Karawang. Berdasarkan laporan masyarakat yang diterima BMKG, intensitas guncangan berada pada Skala Intensitas II hingga III MMI (Modified Mercalli Intensity).

‎Pada skala ini, getaran dideskripsikan terasa nyata di dalam rumah. Warga menggambarkan sensasinya seakan-akan ada truk besar yang sedang berlalu di depan rumah. Selain itu, beberapa orang menyadari adanya gempa ketika melihat benda-benda ringan yang digantung di rumah mereka bergoyang-goyang. Meskipun getaran cukup nyata, durasinya relatif singkat.

‎Kondisi Pasca-Gempa Kabar baiknya, Hartanto memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan, infrastruktur, maupun fasilitas umum sebagai dampak dari gempa tersebut. Situasi di lapangan terpantau aman dan terkendali. Selain itu, hasil monitoring BMKG hingga pukul 09.00 WIB menunjukkan tidak adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk tenang namun waspada terhadap informasi resmi dari otoritas terkait.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *