Connect with us

Business

Bitcoin Anjlok ke $92.500, Terendah 6 Bulan Terakhir Akibat Pupusnya Harapan Suku Bunga The Fed

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompascom Pasar aset kripto tengah mengalami tekanan jual yang hebat, ditandai dengan anjloknya harga Bitcoin (BTC) secara signifikan. Mata uang kripto utama ini dilaporkan telah “nyemplung” atau jatuh ke level 92.500 dollar AS per koin. Dengan mengacu pada kurs Rp 16.700, nilai tersebut setara dengan Rp 1,54 miliar. Titik harga ini merupakan level terendah yang dicatat Bitcoin dalam kurun waktu enam bulan terakhir, menandakan sentimen bearish yang kuat di pasar. Penurunan drastis ini mencerminkan koreksi besar dari Puncaknya. Tercatat, nilai BTC saat ini telah merosot sebesar 27 persen dari rekor harga tertingginya yang dicapai pada bulan Oktober lalu. Volatilitas pasar sangat terasa dalam perdagangan baru-baru ini. Pada hari Senin, misalnya, Bitcoin sempat diperdagangkan di angka 93.876,6 dollar AS (sekitar Rp 1,57 miliar).

Namun, setelah mengalami sedikit rebound atau pemulihan sesaat, harganya gagal bertahan dan kembali melanjutkan tren pelemahannya.Jika dilihat lebih dekat, data jangka pendek menunjukkan tekanan yang konsisten. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin mencatatkan penurunan sebesar 2,4 persen. Sementara itu, dalam rentang waktu satu pekan, angkanya jauh lebih buruk, dengan kerugian mencapai hampir 13 persen.Pelemahan ini tidak hanya dialami oleh Bitcoin; dampaknya terasa di seluruh pasar aset digital. Ether (ETH), aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, juga ikut terseret. Meskipun Ether masih berhasil bertahan di atas level psikologis 3.000 dollar AS, diperdagangkan di sekitar 3.041 dollar AS (setara Rp 50,7 juta), kinerjanya tetap negatif.

Ether tercatat turun 2 persen dalam sehari dan mengalami koreksi tajam sebesar 15 persen selama sepekan.Efek domino dari kejatuhan harga kripto ini menjalar hingga ke pasar saham. Perusahaan-perusahaan yang bisnisnya terkait erat dengan industri kripto merasakan dampak negatif yang signifikan. Saham-saham perusahaan bursa kripto besar seperti Coinbase, Circle, Gemini, dan Galaxy dilaporkan kompak anjlok sekitar 7 persen. Perusahaan yang dikenal sebagai pemegang aset digital dalam jumlah besar, MicroStrategy, juga mengalami penurunan nilai saham sebesar 4 persen. Pelemahan yang lebih dalam dialami oleh BitMine dan ETHZilla, yang masing-masing merosot 8 persen dan 14 persen. Namun, di tengah lautan merah, terdapat anomali di sektor penambangan Bitcoin.

Beberapa perusahaan penambang justru bergerak positif, berlawanan dengan arah pasar. Salah satu contoh paling menonjol adalah Hive Digital. Nilai saham perusahaan ini berhasil melonjak 10 persen. Kenaikan signifikan ini bukan didorong oleh sentimen kripto, melainkan oleh berita fundamental bisnis perusahaan, yakni pengumuman kerja sama strategis di bidang cloud AI dengan raksasa teknologi, Dell Technologies. Menganalisis Penyebab PenurunanLantas, apa yang menjadi pemicu utama di balik tren penurunan Bitcoin yang terus-menerus ini? Analis menunjuk pada faktor makroekonomi, khususnya ekspektasi kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) AS. Peluang yang semakin menipis bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan Desember mendatang menjadi sentimen negatif utama.

Sebelumnya, pasar memperkirakan adanya peluang besar untuk pemangkasan suku bunga bulan depan. Namun, kini probabilitas itu menipis drastis. Perubahan ekspektasi ini membuat investor cenderung menjauhi aset-aset berisiko tinggi, termasuk mata uang kripto, dan beralih ke aset yang lebih aman.Data dari berbagai alat analisis memperkuat pandangan ini. Menurut analis pasar Polymarket, probabilitas The Fed akan mempertahankan suku bunga (tidak berubah) kini berada di angka 55 persen. Sementara itu, CME FedWatch Tool memproyeksikan probabilitas yang sedikit lebih tinggi, yakni sekitar 60 persen, bahwa tidak akan ada pemangkasan suku bunga. Selain faktor suku bunga, pasar juga dibayangi oleh ketidakpastian lain.

Rilis data ekonomi penting Amerika Serikat yang mengalami penundaan akibat kondisi pemerintahan turut memperkeruh suasana. Penundaan ini membuat investor semakin sulit memprediksi langkah kebijakan ekonomi selanjutnya.Proyeksi dan Analisis PasarMeskipun kondisi pasar saat ini terlihat suram, beberapa analis mulai melihat tanda-tanda bahwa Bitcoin mungkin mendekati titik terendah dari siklus penurunan ini. Analis dari Bitfinex, misalnya, mencatat bahwa laju realisasi kerugian (loss realization) oleh para investor mulai menunjukkan tanda-tanda stabil. Dalam analisis siklus pasar, stabilnya realisasi kerugian ini sering kali menjadi indikator yang mendahului fase rebound atau pembalikan harga.”Dalam siklus historis, titik terendah baru terbentuk setelah pemegang jangka pendek menyerah dan menutup posisi rugi,” tulis analis Bitfinex dalam catatan mereka kepada CoinDesk. Ini mengacu pada fenomena kapitulasi, di mana investor yang baru masuk (jangka pendek) menjual aset mereka dalam kondisi rugi karena panik, yang akhirnya “membersihkan” pasar sebelum harga bisa naik kembali.Penurunan yang terjadi saat ini merupakan salah satu yang paling signifikan belakangan ini. Tercatat, ini adalah penurunan terbesar ketiga sejak tahun 2023 dan penurunan terbesar kedua sejak produk investasi ETF Bitcoin spot diluncurkan di AS. Dengan mempertimbangkan data historis dan stabilnya laju kerugian, analis Bitfinex memperkirakan bahwa titik terendah nilai BTC kemungkinan akan tercapai “dalam waktu dekat”.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *