Anak-anak
Bisakah Anak “Dibentuk” Menjadi Cerdas Istimewa? Peran Genetik vs. Stimulasi
semarang (usmnews) – Peran orangtua dalam memberikan stimulasi untuk mendukung tumbuh kembang anak tidak diragukan lagi sangat penting. Berbagai rangsangan yang tepat dapat membantu anak mencapai potensi terbaiknya. Namun, muncul sebuah pertanyaan krusial di benak banyak orangtua: apakah intervensi dan stimulasi yang intensif tersebut mampu “membentuk” atau “mencetak” seorang anak agar menyandang status CIBI (Cerdas Istimewa, Berbakat Istimewa)?
Menjawab hal ini, psikolog pendidikan Gretta Ludwina, M.Psi., menjelaskan bahwa kecerdasan dan bakat istimewa seorang anak dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Gretta menekankan bahwa meskipun faktor lingkungan bisa dioptimalkan, faktor genetik adalah variabel warisan yang berada di luar kendali orangtua. “Jadi bisa atau enggak kita membuat ‘anak CIBI’? Yang agak sulit itu faktor genetiknya,” terang Gretta.
Penting untuk dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan CIBI. Anak-anak CIBI adalah individu yang menunjukkan kemampuan jauh di atas rata-rata usianya. Karakteristik mereka tidak hanya terbatas pada skor IQ tinggi (umumnya minimal 130), tetapi juga mencakup tiga elemen kunci: kemampuan intelektual superior, komitmen yang sangat tinggi terhadap tugas atau bidang yang diminati, serta tingkat kreativitas yang menonjol. Ciri-ciri penyerta yang sering terlihat adalah penguasaan kosa kata yang lebih kaya dan luas, rasa ingin tahu yang tak terpuaskan, serta kemampuan membaca dan berbicara yang berkembang jauh lebih dini dibandingkan teman sebayanya.
Mengingat adanya faktor genetik yang tidak bisa dimodifikasi, lantas apa yang sebaiknya dilakukan orangtua? Gretta menegaskan bahwa fokus orangtua seharusnya bukanlah mengejar label CIBI, melainkan memberikan stimulasi optimal dan dukungan penuh terhadap kemampuan apa pun yang telah dimiliki anak. Upaya ini mencakup penciptaan lingkungan yang kaya akan kesempatan belajar. “Yang bisa orangtua lakukan itu menstimulasi dan mendukung kemampuan anak. Kenali minatnya. Kalau dia tertarik untuk belajar sesuatu, berikan kesempatan itu,” ucap Gretta.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar orangtua tidak hanya terfokus pada satu aspek, misalnya kognitif saja. Agar perkembangan anak optimal dan seimbang, aspek-aspek lain seperti keterampilan sosial-emosional dan kemampuan motorik juga harus mendapatkan perhatian yang setara.
Walaupun orangtua telah memberikan stimulasi terbaik, Gretta kembali menggarisbawahi bahwa tidak ada jaminan anak tersebut akan otomatis menjadi gifted atau CIBI. “Apakah anak akan jadi gifted atau enggak setelahnya, itu bukan sesuatu yang bisa kita pastikan karena lagi-lagi faktor genetik itu juga berpengaruh,” tuturnya. Stimulasi berfungsi untuk memaksimalkan potensi yang sudah ada dalam diri anak. Namun, apakah potensi maksimal anak tersebut akan mencapai level gifted, hal itu sangat bergantung pada kecerdasan bawaan atau faktor genetik yang dimilikinya.
Peringatan keras justru diberikan kepada orangtua yang memiliki ambisi berlebih atau cenderung memaksakan kehendak agar anak mereka masuk dalam kategori CIBI, terutama jika hasil tes atau asesmen psikolog tidak menunjukkan indikasi ke arah sana. Memaksa anak mengikuti berbagai stimulasi yang tidak mereka sukai, atau menyusun jadwal belajar yang terlalu padat sehingga anak kehilangan waktu istirahat dan bermain, adalah tindakan yang bisa menjadi bumerang.
Gretta memaparkan bahwa pemaksaan yang melampaui kapasitas alami anak dapat berujung pada dampak negatif yang serius. Anak berisiko tinggi mengalami burnout atau kelelahan kronis. “Pada akhirnya bisa berdampak negatif ke anak. Jadi burnout, kehilangan minat,” ujarnya. Ketika anak terus-menerus didorong untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kapasitas mereka, alih-alih menjadi berbakat, mereka justru bisa kehilangan motivasi dan minat belajar sepenuhnya. Tindakan ini pada akhirnya lebih merugikan perkembangan psikologis dan kesejahteraan anak.