Nasional
Bencana Hidrometeorologi Sumatera Utara: 40 Orang Hilang
Semarang (usmnews) – Cuaca ekstrem kembali memicu petaka besar di tanah Sumatera Utara. Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor menyapu pemukiman warga dengan kekuatan yang sangat destruktif. Hingga Selasa pagi (3/2/2026), laporan resmi mengonfirmasi bahwa sedikitnya 40 orang warga masih hilang dan belum ditemukan di balik puing-puing kehancuran.
Terjangan Banjir Bandang yang Melumpuhkan
Kejadian yang berlangsung cepat ini menyisakan pemandangan yang memilukan. Aliran air bah yang membawa material kayu gelondongan berukuran besar menghantam bangunan-bangunan permanen di sepanjang bantarannya. Salah satu masjid di lokasi terdampak kini hanya menyisakan atap hijau yang nyaris rata dengan tanah, terkubur oleh tumpukan kayu dan lumpur pekat.
Warga yang selamat menceritakan bagaimana suara gemuruh dari arah perbukitan mendahului datangnya air. Kecepatan arus yang luar biasa membuat banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri, terutama mereka yang berada di titik paling rendah dekat aliran sungai.
Tim Gabungan Perluas Area Pencarian
Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, BPBD, TNI, hingga Polri kini mengerahkan segala sumber daya yang tersedia. Mereka tidak hanya mengandalkan tenaga manual, tetapi juga mulai mengoperasikan alat berat untuk menggeser batang-batang pohon raksasa yang menimbun area pemukiman.
Meskipun medan sangat berat dan berlumpur, petugas terus menyisir area hingga radius beberapa kilometer dari titik awal kejadian. Penggunaan anjing pelacak (K-9) juga menjadi krusial untuk mendeteksi keberadaan korban yang mungkin terjebak di bawah material longsoran yang padat.
Tantangan Cuaca dan Risiko Bencana Susulan
Kepala otoritas penanggulangan bencana setempat menegaskan bahwa prioritas utama adalah penyelamatan nyawa. Namun, ia juga memperingatkan bahwa cuaca di wilayah Sumatera Utara masih sangat fluktuatif. Awan mendung yang menggantung di area hulu menjadi ancaman nyata yang bisa memicu banjir susulan kapan saja.
Kondisi tanah yang jenuh akan air membuat lereng-lereng perbukitan sangat tidak stabil. Hal ini memaksa tim penyelamat untuk selalu waspada dan sesekali menghentikan operasi jika hujan mulai turun dengan intensitas tinggi demi keselamatan para petugas di lapangan.
Solidaritas dan Bantuan Darurat
Saat ini, ratusan pengungsi mulai memadati posko-posko darurat yang didirikan pemerintah. Kebutuhan mendesak seperti air bersih, makanan siap saji, obat-obatan, dan pakaian layak pakai terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat. Pemerintah daerah berjanji akan melakukan pemetaan ulang terhadap pemukiman warga yang berada di zona merah guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.