Lifestyle
Santan vs Susu: Mana yang Lebih Sehat?

Semarang (usmnews) – Bagi pecinta kuliner Indonesia, hidangan bersantan seperti rendang, opor, atau gulai tentu sangat menggoda. Namun, kenikmatan ini sering kali datang dengan rasa bersalah, terutama bagi mereka yang sedang berjuang menjaga berat badan atau memantau kadar kolesterol. Fenomena ini memicu tren baru di kalangan pegiat hidup sehat: mengganti santan dengan susu dalam masakan.
Banyak orang menganggap susu—terutama susu sapi cair atau evaporasi—sebagai “penyelamat” yang lebih ramah bagi jantung. Namun, apakah anggapan ini sepenuhnya akurat? Mari kita bedah faktanya.
Kandungan Lemak dalam Santan
Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, menyoroti fakta dasar mengenai santan. Cairan putih gurih ini berasal dari perasan kelapa tua yang secara alami mengandung lemak jenuh cukup tinggi. Kita perlu mewaspadai lemak jenuh ini karena ia berperan aktif dalam meningkatkan kadar Low-Density Lipoprotein (LDL) atau yang sering kita sebut sebagai kolesterol jahat dalam darah.
Jika kita mengonsumsinya secara berlebihan tanpa kontrol, risiko penyumbatan pembuluh darah pun bisa meningkat. Inilah alasan utama mengapa banyak orang mulai mencari alternatif lain.

Apakah Susu Selalu Lebih Baik?
Beralih ke susu memang terdengar masuk akal, tetapi ini bukan solusi ajaib tanpa celah. Mengubah bahan dasar masakan dari santan ke susu tidak serta-merta membuat makanan tersebut “bebas dosa”.
Status “lebih sehat” ini sangat bergantung pada jenis susu yang Anda pilih. Jika Anda menggunakan susu full cream yang juga tinggi lemak, Anda mungkin hanya memindahkan masalah dari satu sumber lemak ke sumber lemak lainnya. Namun, jika Anda memilih susu rendah lemak (low fat) atau susu skim, Anda memang bisa memangkas jumlah kalori dan lemak jenuh secara signifikan.
Selain itu, kita juga harus memperhatikan kondisi tubuh masing-masing individu. Susu sapi mengandung laktosa yang bisa memicu masalah pencernaan seperti kembung atau diare bagi mereka yang memiliki intoleransi laktosa. Dalam kasus ini, santan—dalam porsi moderat—justru bisa jadi lebih aman bagi perut dibandingkan susu.

Kuncinya Ada pada Porsi dan Cara Masak
Kesimpulannya, mengganti santan dengan susu bukanlah aturan baku yang mutlak benar. Perubahan ini bisa membantu menurunkan asupan lemak jenuh, tetapi hanya jika Anda memilih jenis susu yang tepat.
Ahli gizi menyarankan kita untuk lebih fokus pada pola makan seimbang. Menikmati makanan bersantan sesekali masih tergolong aman selama kita membatasi porsinya dan menyeimbangkannya dengan asupan serat dari sayuran. Jadi, Anda tidak perlu memusuhi santan sepenuhnya, tetapi jadilah konsumen yang bijak dalam mengatur komposisi piring makan Anda.







