Sports
Barcelona Gagal Menang, Hansi Flick Soroti Lini Tengah yang Rapuh
Semarang(Usmnews)– dikutip dari KOMPAS.com Barcelona gagal membawa pulang poin penuh dalam lawatan krusial mereka ke Belgia untuk menghadapi Club Brugge di Liga Champions. Tim raksasa Catalan itu harus berjuang keras hanya untuk mengamankan satu poin di Jan Breydelstadion, dalam laga Matchday 4 yang berakhir dengan skor sama kuat 3-3, Kamis (6/11/2025) dini hari WIB. Hasil ini terasa mengecewakan, mengingat Blaugrana harus terus-menerus berada dalam posisi mengejar ketertinggalan.
Jalannya pertandingan menunjukkan kerapuhan lini belakang Barcelona. Tuan rumah berhasil mengejutkan tim tamu dan membuka keunggulan saat laga baru berjalan enam menit melalui aksi Nicolo Tresoldi. Meski Barcelona merespons cepat lewat gol Ferran Torres hanya dua menit berselang, Club Brugge kembali memimpin pada menit ke-17 berkat gol Carlos Forbs.
Tim asuhan Hansi Flick baru bisa kembali menyamakan kedudukan di babak kedua. Butuh waktu hingga menit ke-61 bagi Lamine Yamal untuk mencetak gol penyeimbang yang menyelamatkan Barcelona dari kekalahan.
Secara statistik, hasil imbang ini terlihat ironis. Barcelona tampil sangat dominan dalam penguasaan bola, mencatatkan angka fantastis 76,1%. Namun, dominasi tersebut terbukti steril. Club Brugge, yang hanya memegang bola 23,9%, justru mampu bermain jauh lebih efisien dan berbahaya.
Kedua tim sama-sama melepaskan enam tembakan tepat sasaran, menunjukkan bahwa setiap serangan Brugge memiliki potensi ancaman yang nyata. Barcelona juga diwarnai sedikit ketidakberuntungan dengan tiga upaya mereka yang membentur tiang gawang.Pelatih Barcelona, Hansi Flick, tidak menutupi kekecewaannya dan secara terbuka menunjuk titik lemah timnya dalam pertandingan tersebut. Menurut Flick, pemicu utama kegagalan Barcelona mengontrol laga, meski dominan menguasai bola, adalah kurangnya intensitas saat mereka kehilangan bola.
“Bukan pertandingan yang mudah,” ujar Flick, seperti dilansir dari situs resmi UEFA. Ia memberikan kredit kepada lawan yang “bertahan dengan baik dan agresif.”Flick secara spesifik mengkritik lini tengah dan agresivitas timnya.
“Kami tak melakukan pressing ke bola dan kalah dalam banyak duel, terutama di tengah,” tegasnya.Ia menjelaskan bahwa kegagalan di lini tengah inilah yang memberi celah bagi Brugge untuk menghantam melalui transisi cepat. Kerapuhan di sektor gelandang membuat pekerjaan barisan pertahanan menjadi berlipat ganda.
“Tidak mudah buat barisan pertahanan untuk bertahan seperti itu,” tambah Flick, mengisyaratkan bahwa lini belakangnya terlalu sering terekspos.Pelatih asal Jerman itu menuntut perbaikan segera, terutama dalam aspek permainan tanpa bola. “Kami harus memolesnya dan menganalisis semuanya. Ini soal mengerahkan intensitas lebih besar ketika kami tak menguasai bola.
“Flick juga memperingatkan timnya untuk lebih waspada terhadap serangan cepat lawan. “Kami harus waspada ketika tim-tim (lawan) menciptakan peluang dengan satu atau dua sentuhan.”Sebagai penutup, ia menekankan bahwa bertahan adalah tanggung jawab kolektif. “Kami harus bertahan, bukan cuma di barisan pertahanan melainkan di lini tengah. Kami perlu berbenah di area ini,” pungkasnya.