Business
Babak Baru Perang Dagang: Kesepakatan Harga Minimum Mobil Listrik China di Pasar Eropa
Semarang (usmnews) – Dikutip dari SINDOnews, Hubungan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi besar, China dan Uni Eropa (UE), akhirnya menemui titik terang setelah ketegangan panjang terkait sektor otomotif.
Pada Selasa, 13 Januari 2026, kedua pihak dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal mengenai mekanisme penetapan harga minimum untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) buatan China yang masuk ke pasar Eropa. Langkah ini diambil sebagai solusi diplomatis atau “jalan tengah” untuk menghindari dampak buruk dari perang dagang yang lebih luas.
Latar Belakang Ketegangan: Tarif dan Tuduhan Subsidi
Perselisihan ini bermula pada tahun 2024 ketika Uni Eropa meluncurkan penyelidikan mendalam terhadap arus masuk mobil listrik asal China. Otoritas Eropa menuduh produsen China mendapatkan keuntungan yang tidak adil melalui subsidi besar-besaran dari pemerintah mereka. Subsidi ini dianggap merusak persaingan sehat dan mengancam keberlangsungan industri otomotif lokal di Eropa yang sedang bertransisi ke energi hijau.
Sebagai konsekuensi dari penyelidikan tersebut, Uni Eropa sempat memberlakukan tarif tambahan yang sangat tinggi, mencapai angka 35,3%. Angka ini merupakan beban tambahan di atas tarif impor standar sebesar 10% yang sudah berlaku sebelumnya. Bagi produsen raksasa seperti BYD, SAIC, dan Geely, kebijakan ini merupakan hambatan besar yang bisa mematikan daya saing harga mereka di Benua Biru.
Mekanisme Harga Minimum sebagai Solusi Diplomatis
Alih-alih melanjutkan konfrontasi melalui pengenaan tarif yang memberatkan, kesepakatan terbaru ini memperkenalkan konsep price undertaking atau komitmen harga minimum. Melalui mekanisme ini, produsen mobil listrik China setuju untuk tidak menjual produk mereka di bawah harga tertentu yang telah disepakati di pasar Eropa.
Bagi Uni Eropa, harga minimum ini berfungsi sebagai pelindung bagi produsen lokal agar tidak kalah bersaing dengan produk impor murah yang “disubsidi”. Di sisi lain, bagi China, kesepakatan ini jauh lebih baik daripada harus membayar tarif tambahan yang tinggi.
Meskipun secara terbuka China sempat menyuarakan protes dan menganggap tindakan Eropa melanggar prinsip perdagangan bebas serta aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mereka akhirnya memilih jalur negosiasi untuk mempertahankan akses pasar yang vital.
Dampak bagi Industri dan Konsumen
Kesepakatan ini membawa dampak ganda. Bagi produsen otomotif Eropa seperti Volkswagen, Renault, dan Stellantis, kebijakan ini memberikan ruang napas untuk memperkuat infrastruktur dan menurunkan biaya produksi mereka tanpa harus tertekan oleh harga agresif dari China. Sementara bagi konsumen di Eropa, harga mobil listrik mungkin tidak akan semurah yang diharapkan jika kompetisi harga dibiarkan bebas, namun stabilitas pasar tetap terjaga.
Pemerintah China dan Uni Eropa kini sedang mengintensifkan pembicaraan teknis untuk merinci bagaimana pengawasan harga ini akan dilakukan di lapangan. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa meskipun ada persaingan geopolitik yang tajam, ketergantungan ekonomi antar wilayah memaksa para pemimpin dunia untuk mencari solusi yang pragmatis.
Kesimpulan: Menuju Persaingan yang Lebih Terukur
Langkah Berlin dan Beijing ini menjadi sinyal penting bagi peta perdagangan internasional. Dengan beralih dari tarif hukuman ke komitmen harga, kedua pihak menunjukkan keinginan untuk menjaga stabilitas ekonomi global di tengah ketidakpastian.
Masa depan industri mobil listrik kini akan lebih banyak ditentukan oleh inovasi teknologi dan efisiensi produksi, bukan sekadar adu murah melalui intervensi negara. Namun, publik masih menunggu rincian lebih lanjut mengenai besaran nominal harga minimum tersebut dan bagaimana skema ini akan berdampak pada peta penjualan mobil listrik global di tahun-tahun mendatang.