Tech
Apple Peringatkan Pengguna iPhone dan Mac Tinggalkan Google Chrome, Isu Privasi Jadi Alasan Utama

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Persaingan antara dua raksasa teknologi, Apple dan Google, kembali memanas setelah Apple mengeluarkan peringatan tegas kepada seluruh pengguna ekosistemnya baik iPhone maupun Mac. Dalam imbauan terbarunya, Apple secara eksplisit menyarankan pengguna untuk berhenti menggunakan peramban (browser) pihak ketiga seperti Google Chrome dan aplikasi Google lainnya, serta beralih kembali ke peramban bawaan mereka, Safari. Langkah ini didasari oleh keprihatinan serius Apple terhadap perlindungan data privasi pengguna dan potensi celah keamanan baru yang muncul dari teknologi kecerdasan buatan (AI).
Melawan Praktik “Fingerprinting” yang Invasif

Alasan utama di balik peringatan ini berpusat pada mekanisme pelacakan digital yang dikenal sebagai fingerprinting. Berbeda dengan cookies pelacak konvensional yang dapat ditolak atau dihapus oleh pengguna, fingerprinting adalah metode pengumpulan data yang jauh lebih canggih dan sulit dihindari. Teknik ini bekerja dengan cara mengambil serpihan data spesifik dari perangkat pengguna mulai dari resolusi layar, konfigurasi sistem operasi, jenis bahasa, hingga detail teknis lainnya untuk kemudian digabungkan menjadi satu identitas digital yang unik. Identitas inilah yang digunakan pengiklan untuk melacak aktivitas pengguna di internet tanpa opsi opt-out (penolakan).
Apple mengklaim bahwa Safari memiliki keunggulan arsitektur keamanan yang dirancang khusus untuk melawan praktik ini. Dalam keterangan resminya yang dikutip oleh Forbes pada Selasa (9/12), Apple menjelaskan bahwa Safari bekerja dengan cara menyederhanakan informasi konfigurasi sistem yang ditampilkan kepada situs web. Dengan strategi ini, perangkat pengguna akan terlihat “identik” dengan jutaan perangkat Apple lainnya di mata pelacak, sehingga menyulitkan pihak ketiga untuk mengidentifikasi pengguna secara spesifik.
Kekhawatiran Apple semakin beralasan mengingat Google dilaporkan telah mencabut larangan terhadap metode pelacakan tertentu yang sulit dideteksi. Hal ini membuat praktik fingerprinting semakin leluasa dan sulit dikendalikan jika pengguna tidak menggunakan peramban yang memiliki fitur proteksi khusus.
Celah Keamanan Baru Akibat Integrasi AI Gemini
Selain isu privasi, Apple juga menyoroti risiko keamanan siber yang muncul seiring dengan integrasi mendalam model AI Gemini ke dalam Google Chrome. Meskipun teknologi AI menawarkan kemudahan, Apple menilai bahwa browser berbasis AI membuka vektor serangan baru yang sangat berbahaya, salah satunya adalah indirect prompt injection.
Google sendiri telah mengakui keberadaan ancaman ini. Serangan indirect prompt injection terjadi ketika peramban memproses konten dari situs berbahaya, iframe pihak ketiga, atau ulasan pengguna yang telah disusupi kode jahat. Konten berbahaya ini dapat memanipulasi asisten AI di dalam browser untuk melakukan tindakan di luar kehendak pengguna, seperti mengekstraksi data sensitif atau bahkan memicu transaksi finansial tanpa izin. Meskipun Google menyatakan telah menyiapkan sistem pertahanan berlapis untuk membuat serangan semacam itu sulit dan mahal dilakukan, risiko tersebut tetap ada dan nyata.

Pandangan Ahli dan Kompatibilitas Layanan
Kekhawatiran Apple ini turut diamini oleh pakar keamanan dari Surfshark. Mereka menegaskan bahwa integrasi AI ke dalam peramban cenderung membuat aktivitas pelacakan dan pengambilan data menjadi jauh lebih agresif dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, Apple memastikan bahwa langkah perlindungan diri dengan beralih ke Safari tidak akan mengorbankan produktivitas pengguna. Perusahaan yang berbasis di Cupertino ini menjamin bahwa layanan produktivitas Google yang populer, seperti Google Docs, Sheets, dan Slides, tetap dapat berjalan dengan optimal dan lancar saat diakses melalui Safari. Dengan demikian, pengguna tidak perlu khawatir kehilangan akses ke alat kerja mereka demi mendapatkan perlindungan privasi yang lebih baik.







