Connect with us

Entertainment

Antara Satire dan Medis: Kritik Tompi terhadap Materi “Mens Rea” Pandji Pragiwaksono Terkait Kondisi Mata Gibran

Published

on

Semarang (usmnews) – Dunia hiburan dan diskursus politik Indonesia sempat ramai memperbincangkan interaksi antara dua figur publik ternama, yaitu penyanyi sekaligus dokter spesialis bedah plastik, Tompi, dan komika senior Pandji Pragiwaksono. Sorotan utama tertuju pada salah satu materi stand-up comedy Pandji dalam tur dunianya yang bertajuk “Mens Rea”. Dalam salah satu segmennya, Pandji membahas sosok Gibran Rakabuming Raka, khususnya menyoroti ekspresi wajah dan tatapan mata Gibran yang sering dianggap publik sebagai tatapan yang kosong, tidak hormat, atau dalam bahasa gaul sering disebut “tengil” saat berhadapan dengan lawan bicara.

Pandji, dengan gaya satirnya yang khas, menjadikan karakteristik fisik tersebut sebagai premis untuk materi komedinya. Ia membangun narasi bahwa ekspresi tersebut adalah cerminan dari sikap atau karakter Gibran. Materi ini tentu saja memancing gelak tawa penonton sebagai bagian dari kritik sosial-politik yang dibalut humor. Namun, narasi ini mendapat respon serius dan koreksi tajam dari Tompi.

Sebagai seorang dokter yang memahami anatomi wajah secara mendalam, Tompi merasa perlu meluruskan kesalahpahaman yang beredar, yang justru diperkuat oleh materi komedi tersebut. Tompi menegaskan bahwa apa yang terlihat pada mata Gibran bukanlah sebuah kesengajaan, sikap meremehkan, ataupun tanda ketidaksopanan, melainkan sebuah kondisi medis yang dikenal dengan nama Ptosis.

Dalam penjelasannya, Tompi memaparkan bahwa Ptosis adalah kondisi medis di mana kelopak mata bagian atas turun atau terkulai. Hal ini terjadi karena kelemahan pada otot levator, otot yang bertugas mengangkat kelopak mata. Akibatnya, penderita Ptosis sering kali terlihat seperti orang yang sedang mengantuk, lelah, atau tidak fokus, padahal kondisi tersebut murni masalah anatomis yang berada di luar kendali penderita. Tompi menekankan bahwa menjadikan kondisi fisik bawaan atau medis sebagai bahan lelucon (roasting) adalah tindakan yang kurang bijaksana, karena hal tersebut menyerang sesuatu yang tidak bisa diubah begitu saja oleh orang tersebut, berbeda dengan mengkritik kebijakan atau perilaku.

Kritik Tompi ini membuka wawasan baru bagi publik. Ia menyayangkan narasi yang dibangun bahwa Gibran sengaja memasang wajah “tengil” kepada lawan bicara. Menurut Tompi, penderita Ptosis sering kali harus mengangkat alis atau mendongakkan kepala hanya untuk bisa melihat dengan jelas, yang sayangnya sering disalahartikan sebagai gestur arogansi oleh orang awam.

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting mengenai batasan dalam komedi, khususnya political satire. Tompi mengingatkan bahwa meskipun kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam komedi itu penting, seorang komika—terutama sekelas Pandji—sebaiknya melakukan riset yang lebih mendalam sebelum menyerang aspek fisik seseorang. Mengolok-olok kondisi medis (body shaming) yang disalahartikan sebagai karakter buruk tidak hanya tidak etis, tetapi juga melanggengkan stigma negatif terhadap orang-orang yang memiliki kondisi serupa. Edukasi yang disampaikan Tompi mengubah persepsi publik dari yang tadinya menertawakan, menjadi memahami bahwa di balik tatapan Gibran, terdapat kondisi klinis yang valid dan ilmiah, bukan sekadar bahan tertawaan politik.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *