International
Antara Euforia dan Kecemasan: Fajar Baru Venezuela Pasca-Runtuhnya Rezim Maduro
Semarang (usmnews) – Dikutip Sindo.news Suasana di Venezuela kini diselimuti oleh campuran emosi yang kompleks, berkisar antara harapan yang melambung tinggi dan ketakutan yang mencekam, menyusul peristiwa dramatis penggulingan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Peristiwa yang terjadi setelah ketegangan berbulan-bulan antara kedua negara ini—termasuk pengerahan armada angkatan laut AS di dekat perairan Venezuela—telah mengubah lanskap politik negara tersebut dalam sekejap mata. Bagi sebagian rakyat, ini adalah momen pembebasan yang telah lama dinanti, namun bagi yang lain, ini adalah awal dari ketidakpastian yang mendalam.
Salah satu potret emosional datang dari Wilmer Castro, seorang mahasiswa dari Ejido yang merayakan ulang tahunnya yang ke-26 tepat saat berita tersebut pecah. Pada sabtu pagi itu, notifikasi di ponselnya yang ia kira ucapan selamat ulang tahun ternyata membawa kabar yang ia anggap sebagai “hadiah terbaik” dalam hidupnya: jatuhnya sang diktator. Castro bahkan sempat berfantasi tentang bagaimana ia kelak akan menceritakan momen bersejarah tanggal 3 Januari 2026 ini kepada anak cucunya sebagai hari di mana kebebasan kembali diraih. Namun, euforia awal tersebut dengan cepat berganti menjadi kecemasan. Pada hari Minggu, kota tempat tinggalnya dilanda keheningan yang tidak wajar dan “menyedihkan”, sebuah atmosfer sunyi yang digambarkan Castro seperti berada di tengah ladang kosong tanpa kehidupan, mencerminkan ketidakpastian yang kini menghantui benak banyak warga.
Kecemasan ini berakar dari sejarah panjang gejolak politik di Venezuela. Sejak tahun 1999, di bawah pemerintahan sosialis Hugo Chavez dan kemudian dilanjutkan oleh Maduro, negara ini mengalami transformasi drastis. Program sosial yang awalnya didanai oleh kekayaan minyak perlahan berubah menjadi kisah salah urus ekonomi, korupsi yang merajalela, dan penindasan politik. Puncaknya terjadi pada pemilihan umum 2024, di mana harapan oposisi untuk menang di bawah Edmundo Gonzalez Urrutia dihancurkan oleh klaim kemenangan sepihak Maduro, yang memicu represi lebih lanjut terhadap perbedaan pendapat. Banyak warga akhirnya merasa bahwa perubahan hanya mungkin terjadi melalui intervensi luar.
Realitas intervensi asing ini dirasakan secara fisik oleh warga seperti Edward Ocariz, 54 tahun, yang tinggal di Caracas tenggara. Ia terbangun oleh suara dentuman keras dan getaran jendela di dekat barak militer Fort Tiuna. Pemandangan helikopter asing yang terbang rendah di atas asap kota menyadarkannya bahwa angkatan bersenjata yang beroperasi di langit mereka bukanlah milik Venezuela. Kesaksian Ocariz dan Castro menjadi representasi dari jutaan rakyat Venezuela saat ini: mereka berdiri di persimpangan sejarah, menatap masa depan dengan hati-hati, di mana jatuhnya rezim lama belum tentu menjamin kestabilan instan, melainkan membuka babak baru yang penuh dengan tanda tanya besar.