Nasional
Ancaman Ekologis di Pesisir Bintan: Nelayan Resah Akibat Serbuan Karung Limbah Minyak Hitam
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia.com Ketenangan warga pesisir Pulau Pucung, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, terusik oleh kedatangan “tamu tak diundang” yang mengancam mata pencaharian dan ekosistem mereka. Sejak akhir Januari hingga awal Februari 2026, ratusan karung misterius yang diduga kuat berisi limbah minyak hitam (sludge oil) terdampar memenuhi garis pantai. Fenomena ini memicu keresahan mendalam di kalangan nelayan lokal yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut.
Dampak Langsung bagi Nelayan dan Lingkungan
Khairuddin, salah seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa serbuan limbah ini telah berlangsung selama kurang lebih tiga hari, dengan volume terbanyak terlihat pada awal Februari. Karung-karung tersebut tidak hanya menumpuk sebagai sampah padat, tetapi banyak di antaranya telah pecah dan bocor. Tumpahan minyak hitam yang kental dan lengket kini mencemari pasir putih serta perairan dangkal tempat nelayan biasa beraktivitas. Kondisi ini diperparah oleh cuaca panas terik yang membuat minyak di dalam karung meleleh, memperluas area kontaminasi.
Rasam, nelayan lainnya, menyuarakan keputusasaan komunitasnya. Aktivitas melaut menjadi terhambat karena peralatan tangkap seperti jaring berisiko rusak terkena minyak lengket tersebut. Selain kerugian ekonomi, mereka juga bingung harus mengadu ke mana atas bencana lingkungan yang tiba-tiba ini. “Aslinya resah, cuma kita mau mengadu ke mana,” ujarnya, menggambarkan ketidakberdayaan warga menghadapi polusi skala besar ini.
Respons Cepat dan Kendala Penanganan
Menanggapi laporan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) segera bergerak. Noviandi, Fungsional Pengendali Dampak DLH Kepri, menyatakan bahwa timnya telah terjun ke lokasi untuk melakukan verifikasi dan pemetaan sebaran limbah. Namun, tantangan besar menghadang upaya pembersihan. Karung-karung limbah tersebut terus berdatangan terbawa arus, membuat upaya pembersihan manual terasa sia-sia jika sumber utamanya tidak segera diidentifikasi dan dihentikan.
DLH Kepri tidak bekerja sendirian; koordinasi intensif dilakukan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri serta Pangkalan Kesatuan Pengawas Laut dan Pelayaran (KPLP) Kelas II Tanjung Uban. Sebagai langkah darurat, pemerintah telah mendistribusikan karung-karung kosong kepada warga untuk membantu mengumpulkan limbah yang berserakan. Namun, Noviandi menegaskan bahwa penanganan ideal memerlukan peralatan khusus seperti drum untuk menampung limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ini sebelum dikirim ke pusat pengolahan limbah di Batam.
Langkah Lanjutan
Rencana aksi gotong royong massal dijadwalkan akan digelar melibatkan petugas gabungan dan masyarakat setempat. Fokus utama saat ini adalah meminimalisir dampak kerusakan lingkungan sembari terus menyelidiki asal muasal limbah misterius tersebut. Insiden ini menjadi pengingat keras akan kerentanan wilayah pesisir Indonesia terhadap kejahatan lingkungan lintas batas maupun kelalaian pengelolaan limbah di laut lepas. Bagi nelayan Bintan, harapan mereka sederhana: laut kembali bersih agar dapur mereka bisa terus ngebul.