International

Amerika Serikat telah melakukan uji tembak rudal balistik antarbenua Minuteman III, yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir.

Published

on

Semarang (usmnews) dikutip dari internasional.sindonews.com Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) telah melaksanakan uji coba penembakan rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III pada hari Rabu, 5 November 2025. Peluncuran ini dilakukan dari Pangkalan Luar Angkasa Vandenberg di California. Meskipun rudal ini memiliki kapabilitas untuk membawa hulu ledak nuklir, Komando Serangan Global Angkatan Udara AS menegaskan bahwa uji coba kali ini tidak menggunakan hulu ledak dan bersifat unarmed.

Tes ini menarik perhatian karena dilakukan hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan arahan agar Pentagon kembali memulai pengujian senjata nuklir. Presiden Trump dilaporkan memberikan arahan tersebut dengan alasan bahwa Rusia dan Tiongkok juga melakukan aktivitas serupa.

Pihak Angkatan Udara AS mengonfirmasi bahwa tes yang diberi nama kode GT 254 tersebut berjalan sukses. Rudal Minuteman III yang diluncurkan dilaporkan menempuh jarak sekitar 4.200 mil ke arah barat daya, melintasi Samudra Pasifik, sebelum mencapai targetnya di lokasi pengujian Atol Kwajalein di Pasifik timur.

Menurut Angkatan Udara, peluncuran dari Western Test Range di pangkalan dekat Lompoc ini merupakan bagian dari program evaluasi rutin yang dirancang untuk memvalidasi dan memverifikasi kemampuan sistem ICBM AS. Letnan Kolonel Karrie Wray, komandan Skuadron Uji Terbang ke-576, menjelaskan bahwa tes ini adalah “penilaian komprehensif” terhadap kemampuan sistem rudal untuk menjalankan misi kritisnya. Rudal yang diuji dikonfirmasi dipilih secara acak dari persediaan senjata yang ada saat ini.

Komando Serangan Global, yang bermarkas di Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Louisiana, menambahkan bahwa uji coba ini sangat penting untuk mengevaluasi keandalan, kesiapan operasional, dan akurasi sistem ICBM yang sedang berlangsung, yang disebut sebagai “landasan pertahanan nasional Amerika.” Selama fase akhir penerbangan rudal, sensor di Situs Uji Reagan digunakan untuk mengumpulkan data telemetri, metrik, dan data khas lainnya. Kolonel Dustin Harmon, komandan Grup Uji dan Evaluasi ke-377, menyatakan bahwa data ini penting untuk “memvalidasi keandalan, kemampuan adaptasi, dan modularitas sistem persenjataan.”

Menurut data akhir 2024 dari Pusat Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi, AS saat ini memelihara sekitar 400 unit ICBM Minuteman III. Rudal-rudal ini ditempatkan di silo-silo bawah tanah dan pusat komando yang tersebar di beberapa negara bagian, termasuk Montana, North Dakota, Wyoming, Nebraska, dan Colorado. Pada tahun 2015, Angkatan Udara telah menyelesaikan program senilai $7 miliar untuk memperpanjang masa pakai Minuteman III hingga tahun 2030-an, meskipun pejabat Pentagon meyakini rudal ini dapat dipertahankan hingga 2050.

Rudal Minuteman III merupakan komponen krusial dari triad nuklir AS, yaitu sistem pertahanan tiga cabang. Selain rudal berbasis darat ini, triad nuklir AS juga mencakup rudal Trident II D5 berhulu ledak nuklir yang diluncurkan dari 14 kapal selam rudal balistik kelas Ohio milik Angkatan Laut, serta armada pesawat pengebom B-2 Spirit dan B-52 Stratofortress milik Angkatan Udara.

Meskipun masih diandalkan, AS berencana untuk mulai memensiunkan Minuteman III secara bertahap mulai tahun 2029. Sebagai penggantinya, AS tengah mengembangkan sistem rudal balistik baru LGM-35A Sentinel, sebuah program yang menelan biaya $141 miliar. Jenderal SL Davis, komandan Komando Serangan Global, menekankan pentingnya menjaga kesiapan armada Minuteman III yang ada sambil terus memodernisasi ke sistem Sentinel.

Penggantian Minuteman III ini adalah bagian dari upaya modernisasi triad nuklir AS yang jauh lebih besar, dengan proyeksi anggaran mencapai $1,4 triliun. Selain ICBM Sentinel (darat), Angkatan Laut sedang menunggu pengiriman kapal selam rudal balistik kelas Columbia, dimulai dengan USS District of Columbia. Program 12 kapal selam senilai $358 miliar ini diperkirakan akan tiba pada tahun 2029, sedikit terlambat dari jadwal. Di sisi udara, Angkatan Udara telah menerima dua pesawat pengebom strategis B-21 Raider pertama untuk uji terbang, dengan target 100 pesawat siluman senilai total $203 miliar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version