Lifestyle
Alarm Kesehatan Mental: Lonjakan Kasus Depresi pada Generasi Muda Indonesia

Semarang (usmnews) – Dikutip cnbcindonesia.com Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, baru-baru ini menyampaikan peringatan serius mengenai kondisi kesehatan mental masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (19/1/2026), terungkap sebuah fakta yang mengkhawatirkan: prevalensi gejala depresi dan gangguan kecemasan di kalangan anak usia sekolah dan remaja di Indonesia tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa maupun lansia.
Keresahan Menkes ini didasarkan pada hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang kini telah mengintegrasikan skrining kesehatan jiwa sebagai salah satu komponen pemeriksaan rutin. Dari sekitar 27 juta warga yang telah menjalani pemeriksaan tersebut, ditemukan bahwa kelompok usia muda memiliki kerentanan mental yang sangat signifikan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 4 persen remaja dan anak sekolah terdeteksi mengalami gejala depresi atau kecemasan. Angka ini terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan kelompok dewasa dan lansia yang angka prevalensinya masih berada di bawah 1 persen.
Menkes Budi menjelaskan bahwa fenomena ini selama ini seperti “gunung es” yang tidak terlihat permukaannya. Mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan satu dari delapan hingga sepuluh penduduk dunia memiliki masalah kejiwaan. Di Indonesia, potensi ini setara dengan sekitar 27 juta jiwa. Namun, selama bertahun-tahun masalah ini terabaikan karena kurangnya sistem deteksi dini atau skrining yang masif di tengah masyarakat. Dengan adanya program skrining baru ini, besarnya masalah kesehatan jiwa di Indonesia mulai terpetakan secara lebih akurat.

Menyikapi temuan yang memprihatinkan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak tinggal diam. Pemerintah kini tengah fokus membangun infrastruktur layanan kesehatan jiwa di tingkat dasar, yakni Puskesmas. Sebelumnya, layanan kesehatan jiwa di Puskesmas sangat terbatas atau bahkan hampir tidak ada. Namun ke depannya, Kemenkes berkomitmen untuk menjadikan Puskesmas sebagai garda terdepan dalam menangani masalah mental, mulai dari pemberian edukasi, layanan konseling dengan psikolog, hingga intervensi medis berupa pemberian obat-obatan bagi kasus yang lebih berat.
Langkah ini diambil karena Menkes meyakini bahwa deteksi dini adalah kunci keberhasilan penanganan masalah kesehatan mental. Selain jauh lebih efektif dalam menjaga kualitas hidup seseorang, penanganan sejak dini juga memakan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan jika pasien baru ditangani saat kondisinya sudah kronis atau parah. Dengan penguatan layanan di tingkat Puskesmas, pemerintah berharap akses masyarakat terhadap bantuan kesehatan mental menjadi lebih mudah dan terjangkau, sehingga generasi muda Indonesia dapat tumbuh dengan mental yang lebih sehat dan tangguh.







