Connect with us

Anak-anak

Alarm Bahaya: Terbongkarnya Infiltrasi Jaringan Teroris di Kalangan Pelajar Bali

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Detik.com Sebuah fakta mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan terungkap di Pulau Dewata. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh detikBali pada Kamis, 11 Desember 2025, Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengonfirmasi bahwa dua bocah pelajar di Bali telah terpapar ideologi terorisme hingga level yang mengkhawatirkan. Kasus ini menjadi “tamparan keras” bagi sistem pengawasan anak, mengingat usia kedua korban yang masih sangat belia, yakni 13 dan 14 tahun.

Awal Mula: Jebakan Dunia Maya

Kronologi keterlibatan kedua anak ini bermula dari rasa ingin tahu yang polos sekitar tiga tahun lalu, saat mereka masih berusia sekitar 10 tahun. Mereka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar agama dan kehidupan melalui internet karena tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari lingkungan keluarga. Sayangnya, algoritma pencarian justru mengarahkan mereka pada konten-konten propaganda ekstremis.

Dari interaksi pasif di media sosial, mereka kemudian direkrut ke dalam grup WhatsApp tertutup yang dikelola oleh jaringan teroris. Di dalam grup yang beranggotakan ratusan anak dari 25 provinsi di Indonesia itu, mereka dicekoki materi-materi radikal secara intensif oleh admin yang merupakan orang dewasa berpaham ekstrem. Ironisnya, meskipun berada dalam grup yang sama, kedua anak Bali ini tidak saling mengenal di dunia nyata, menunjukkan betapa rapinya sistem sel terputus yang dijalankan oleh para perekrut.

Tingkat Paparan: Sudah Menargetkan Lokasi

Yang membuat kasus ini semakin mengerikan adalah tingkat radikalisasi yang sudah dicapai. Ketua KPPAD Bali, Luh Gede Yastini, menyebut gejala yang ditunjukkan kedua anak ini sudah masuk kategori “parah”. Bahkan, Kasatgaswil Bali Densus 88, Kombes Antonius Agus Rahmanto, mengungkapkan bahwa mereka sempat menargetkan dua lokasi spesifik di Bali untuk aksi teror, meskipun detail lokasi dan metodenya tidak dipublikasikan demi keamanan.

Fakta bahwa anak usia SMP sudah memiliki intensi untuk melakukan aksi destruktif menunjukkan keberhasilan indoktrinasi yang dilakukan para teroris. Mereka memanfaatkan kerentanan psikologis anak—seperti rasa ingin diakui, pencarian jati diri, atau bahkan pelarian dari masalah keluarga (seperti perundungan)—untuk menanamkan kebencian.

Upaya Penyelamatan dan Rehabilitasi

Saat ini, kedua anak tersebut telah diamankan dan sedang menjalani program deradikalisasi intensif di lokasi aman. Proses pemulihan ini melibatkan pendekatan holistik, mulai dari pendampingan psikologis untuk membenahi mental mereka, hingga reedukasi keagamaan oleh ahli agama yang moderat untuk meluruskan pemahaman yang menyimpang.

Yastini menegaskan bahwa proses penyembuhan ini bukanlah perkara instan. Meskipun masa paparan “hanya” tiga tahun, proses untuk membersihkan ideologi tersebut dari pikiran mereka bisa memakan waktu belasan tahun. Orang tua mereka juga dilibatkan penuh dalam proses ini, karena benteng pertahanan pertama anak dari paham radikal sejatinya adalah komunikasi yang terbuka dan hangat di dalam rumah.

Pesan untuk Masyarakat

Terbongkarnya kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh orang tua di Indonesia. Densus 88 mencatat ada 110 anak di seluruh negeri yang tergabung dalam jaringan serupa. Ini membuktikan bahwa teroris tidak lagi hanya menyasar orang dewasa, tetapi secara aktif “memanen” bibit-bibit baru dari generasi muda melalui gawai yang mereka pegang sehari-hari. Pengawasan terhadap aktivitas digital anak bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan mendesak demi keselamatan masa depan mereka.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *