Nasional
Mahasiswa BEM UNJ Gelar Aksi Unjuk Rasa di Pusat Kota Jakarta
Semarang (usmnews) – Mahasiswa BEM UNJ menggelar demonstrasi di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Jumat (17/7/2026). Mereka datang untuk menyuarakan aspirasi kritis terkait kondisi sosial dan politik tanah air. Massa tiba di lokasi sekitar pukul 15.10 WIB dengan membawa atribut aksi dan sebuah mobil komando.
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Para mahasiswa membawa pesan strategis bagi pemerintah. Mereka mengenakan pakaian bebas, termasuk jersey olahraga, yang menciptakan suasana aksi dinamis namun tetap penuh tekanan. Di sela orasi, beberapa mahasiswa bermain bola plastik sebagai simbol perlawanan yang kreatif.
Pihak kepolisian segera memasang barikade di lokasi. Mereka menutup arus lalu lintas dari arah Patung Kuda menuju Stasiun Gambir untuk mencegah kerumunan. Meski demikian, warga tetap bisa melintas dari arah Kedutaan Besar Amerika Serikat menuju Patung Kuda. Petugas kepolisian terus berjaga di beberapa titik vital untuk memastikan situasi tetap terkendali.
Tantangan Pendidikan dan Kedaulatan Sipil
BEM UNJ menyoroti urgensi perbaikan sektor pendidikan nasional. Mahasiswa menilai sistem pendidikan saat ini masih memiliki banyak hambatan struktural. Mereka menyoroti mahalnya biaya pendidikan, akses yang tidak merata, serta kurikulum yang kurang adaptif.
Isu kedaulatan masyarakat sipil juga menjadi perhatian utama. Mahasiswa menilai ruang gerak bagi publik untuk mengkritik kebijakan pemerintah kini semakin sempit. Mereka mendesak kabinet Prabowo-Gibran agar lebih terbuka terhadap masukan rakyat. Mahasiswa menuntut pemerintah menjamin kebebasan berpendapat demi kepentingan publik.
Rencana Aksi Lanjutan dan Tekanan
Aksi di depan Gedung BSI ini hanyalah langkah awal dari rangkaian agenda BEM UNJ. Para aktivis memastikan mereka akan terus bergerak hingga pemerintah memberikan respons konkret. Jika pemerintah abai, mereka akan menggelar aksi yang lebih masif dan berkelanjutan.
Mahasiswa bertekad “menggemborkan” kabinet Prabowo-Gibran melalui strategi aksi berjilid-jilid. Mereka ingin menjaga semangat pergerakan tetap menyala di mata publik. Ke depannya, konsolidasi antar-elemen mahasiswa kemungkinan akan semakin kuat. Mereka akan terus mengawal kebijakan negara sebagai bentuk desakan nyata kepada pemangku kebijakan. Saat ini, mahasiswa masih bernegosiasi agar pihak berwenang mengizinkan mereka bergerak menuju Bundaran HI atau Patung Kuda.