Connect with us

Sports

Akhir Sebuah Era: Ronaldo dan Messi Satu Suara Menolak Kursi Pelatih

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Selama hampir dua dekade, dunia sepak bola terbelah oleh rivalitas epik antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Perdebatan mengenai siapa yang layak menyandang gelar Greatest of All Time (GOAT) terus bergema di setiap stadion dan diskusi penggemar. Namun, di penghujung karier mereka yang gemilang—saat keduanya semakin dekat dengan masa gantung sepatu—muncul sebuah kesepakatan tak tertulis di antara keduanya. Untuk pertama kalinya, kedua legenda ini “kompak” dalam satu keputusan besar: mereka sama sekali tidak berminat untuk melanjutkan karier sebagai pelatih kepala atau manajer tim.Keputusan ini mematahkan harapan jutaan penggemar yang bermimpi melihat rivalitas keduanya berlanjut di pinggir lapangan, layaknya persaingan taktis antara Pep Guardiola dan Jose Mourinho di masa lalu.

Alasan Sang “La Pulga”: Mencari Ketenangan di Balik Layar

Lionel Messi, yang kini telah melengkapi trofi lemari pialanya dengan gelar Juara Dunia, secara terbuka menyatakan ketidaktertarikannya pada dunia manajerial. Dalam berbagai kesempatan wawancara, Messi menegaskan bahwa menjadi pelatih bukanlah passion-nya. Faktor Kepribadian: Messi dikenal sebagai sosok yang introvert dan lebih suka berbicara melalui kakinya di lapangan. Menjadi pelatih membutuhkan kemampuan manajemen manusia, konfrontasi media, dan orasi ruang ganti yang intens, sesuatu yang tidak selaras dengan karakter alaminya. Peran Alternatif: Alih-alih menjadi juru taktik, Messi mengisyaratkan ketertarikannya pada peran Direktur Olahraga. Posisi ini memungkinkannya tetap berada di dunia sepak bola, terlibat dalam pembangunan skuad, dan memantau bakat-bakat muda, namun tanpa tekanan harian yang mencekik seperti yang dirasakan seorang pelatih kepala.

Foto: AFP via Getty Images/AFP Contributor

Ia lebih memilih bekerja di balik layar, mengamati potensi pemain, dan mengajarkan teknik kepada anak-anak (pembinaan usia dini) daripada memusingkan strategi pertandingan setiap pekan. Perspektif CR7: Bisnis dan Tantangan Generasi BaruDi sisi lain, Cristiano Ronaldo, yang dikenal dengan etos kerja dan disiplin militernya, juga menutup pintu untuk karier kepelatihan. Padahal, banyak yang mengira jiwa kepemimpinannya (seperti yang terlihat saat ia memberi instruksi di final Euro 2016) akan membuatnya menjadi pelatih hebat. Namun, Ronaldo memiliki pandangan realistis dan pragmatis. Fokus Bisnis: Ronaldo telah membangun imperium bisnis yang masif di luar sepak bola, mulai dari perhotelan, pusat kebugaran, hingga mode. Ia tampaknya ingin menikmati hasil kerja kerasnya dan fokus mengembangkan brand CR7 tanpa terikat jadwal latihan klub yang ketat.

Kesenjangan Generasi: Salah satu alasan menarik yang pernah diungkapkan Ronaldo adalah sulitnya menangani mentalitas pemain generasi baru. Ia merasa standar disiplin dan dedikasi yang ia miliki mungkin sulit diterapkan atau dituntut dari pemain-pemain muda zaman sekarang, yang bisa memicu frustrasi baginya jika menjadi pelatih. Kehilangan Gairah: Ronaldo secara gamblang menyebutkan bahwa antusiasmenya murni untuk bermain dan mencetak gol, bukan untuk meracik strategi. Baginya, menjadi pelatih tidak memberikan adrenalin yang sama. Tekanan Mental Pelatih Modern. Kesamaan pandangan ini juga didasari oleh realitas kejam dunia kepelatihan modern. Menjadi pelatih klub top Eropa berarti siap mengorbankan kehidupan pribadi 24 jam sehari, menghadapi tekanan pemecatan yang konstan, dan kritik media yang tak kenal ampun. Baik Messi maupun Ronaldo telah hidup di bawah mikroskop publik sejak usia remaja.

Pensiun bagi mereka adalah kesempatan emas untuk akhirnya “bernafas” dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, sesuatu yang mustahil didapatkan jika mereka langsung terjun menjadi pelatih kepala. Dengan demikian, dunia sepak bola harus bersiap menerima kenyataan bahwa warisan Ronaldo dan Messi kemungkinan besar akan berhenti saat mereka pensiun sebagai pemain. Kita tidak akan melihat adu strategi antara “Tim Messi” dan “Tim Ronaldo” di masa depan, melainkan melihat mereka menikmati masa pensiun sebagai legenda hidup yang telah memberikan segalanya untuk olahraga ini.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *