Connect with us

Tech

Akhir Saga TikTok di AS: Restrukturisasi Besar-Besaran dan Era Baru di Bawah “USDS Joint Venture”

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Periode ketidakpastian yang panjang dan penuh ketegangan mengenai nasib operasional TikTok di Amerika Serikat akhirnya menemui titik terang. Ancaman pemblokiran yang selama ini membayangi platform media sosial terpopuler tersebut resmi berakhir setelah perusahaan induknya, ByteDance, berhasil merampungkan kesepakatan strategis yang krusial. Kesepakatan ini melibatkan pembentukan sebuah entitas bisnis baru, yaitu joint venture, yang memungkinkan TikTok untuk tetap eksis dan beroperasi secara legal di pasar Amerika Serikat. Langkah penyelamatan ini tercapai tepat sebelum tenggat waktu ultimatum yang sebelumnya ditetapkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Dalam struktur kesepakatan yang baru ini, terjadi pergeseran kepemilikan yang sangat signifikan. ByteDance tidak lagi menjadi pemegang kendali mutlak, melainkan telah melepas mayoritas sahamnya kepada konsorsium investor Barat.

ByteDance kini hanya akan mempertahankan 20% kepemilikan di entitas baru tersebut. Sementara itu, 80% sisa saham dikuasai oleh kelompok investor elit, termasuk raksasa teknologi Oracle, firma investasi Silver Lake, dan MGX, yang masing-masing mengamankan porsi saham sebesar 15%. Sisa saham lainnya didistribusikan kepada investor lain, termasuk keterlibatan firma investasi milik CEO Dell, Michael Dell. Selain restrukturisasi kepemilikan, TikTok juga melakukan perombakan besar dalam struktur manajemen operasionalnya di Amerika. Adam Presser, seorang eksekutif berpengalaman yang sebelumnya menjabat sebagai pimpinan divisi operasional dan keamanan TikTok selama empat tahun, kini ditunjuk sebagai Chief Executive Officer (CEO) untuk entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture ini.

Latar belakang Presser sebagai mantan eksekutif senior di Warner Bros dinilai membawa kredibilitas yang kuat untuk memimpin fase baru perusahaan. Perubahan paling fundamental dari kesepakatan ini terletak pada penanganan data pengguna. Sesuai dengan kekhawatiran utama pemerintah AS selama ini, joint venture ini berkomitmen untuk memigrasikan dan menyimpan seluruh data pengguna Amerika Serikat di dalam infrastruktur cloud milik Oracle yang berlokasi secara fisik di wilayah AS. Tidak hanya soal penyimpanan, entitas baru ini juga diberi mandat khusus untuk melatih ulang algoritma rekomendasi TikTok menggunakan data pengguna AS, serta memegang kendali penuh atas moderasi konten di wilayah tersebut. Hal ini dirancang untuk memastikan kedaulatan data dan meminimalisir kekhawatiran intervensi asing.

Kabar baik bagi para kreator dan pengguna adalah jaminan kontinuitas pengalaman pengguna. TikTok memastikan bahwa meskipun ada pemisahan operasional, pengguna di AS tetap dapat menikmati konten global dan menjangkau audiens internasional tanpa hambatan. Payung perlindungan dari joint venture ini juga bersifat ekspansif; tidak hanya melindungi aplikasi utama TikTok, tetapi juga mencakup seluruh portofolio aplikasi saudara ByteDance lainnya yang beroperasi di AS, seperti aplikasi penyunting video populer CapCut dan platform gaya hidup Lemon8. Dari sisi tata kelola perusahaan (corporate governance), entitas baru ini akan diawasi secara ketat oleh dewan direksi yang beranggotakan tujuh orang figur penting. CEO TikTok saat ini, Shou Zi Chew, tetap masuk dalam jajaran direksi.

Ia akan didampingi oleh nama-nama besar di dunia bisnis dan teknologi, antara lain Timothy Dattels (TPG Global), Mark Dooley (Susquehanna International Group), Egon Durban (Co-CEO Silver Lake), Raul Fernandez (CEO DXC Technology), Kenneth Glueck (Oracle), dan David Scott (MGX). Komposisi dewan ini mencerminkan keseimbangan antara kepentingan teknologi, investasi, dan operasional. Kesepakatan ini disambut dengan antusias oleh Presiden Donald Trump. Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump memberikan pujian tinggi terhadap solusi ini. Ia menyebut bahwa TikTok kini telah beralih ke tangan “sekelompok patriot dan investor AS yang hebat,” yang menyiratkan kepuasan pemerintah AS atas hilangnya dominasi kepemilikan asing. Menariknya, Trump juga secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden China, Xi Jinping. Trump mengapresiasi sikap Xi yang memberikan lampu hijau atas transaksi kompleks ini. “Dia bisa saja mengambil jalan lain, tapi tidak, dan keputusannya itu patut dihargai,” tulis Trump, menandakan adanya diplomasi tingkat tinggi yang terjadi di balik layar untuk memuluskan kesepakatan bisnis yang bernilai strategis ini. Dengan demikian, tanggal 23 Januari 2026 menjadi tonggak sejarah baru di mana TikTok berhasil mentransformasi dirinya dari target regulasi menjadi entitas bisnis yang didukung penuh oleh infrastruktur dan modal Amerika Serikat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *