Lifestyle
Misteri Wajah “Boros” Remaja Zaman Dulu: Mengapa Generasi Sekarang Tampak Lebih Awet Muda?

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Pernahkah Anda memperhatikan album foto lama milik orang tua atau menonton film dari era 1980-an dan merasa bahwa para remajanya terlihat seperti orang dewasa berusia 30 tahun? Fenomena ini sering menjadi bahan perdebatan hangat di media sosial. Banyak yang bertanya-tanya, apakah manusia zaman dulu memang menua lebih cepat? Artikel dari CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa jawabannya melibatkan kombinasi antara persepsi psikologis, perubahan gaya hidup, hingga kemajuan teknologi medis.
1. Fenomena Bias Seleksi dan Penuaan Retrospektif

Alasan pertama yang paling mendasar bersifat sosiologis dan psikologis, yang sering disebut sebagai bias seleksi. Menurut penjelasan Michael Stevens dari saluran edukasi Vsauce, kita cenderung menilai penampilan masa lalu menggunakan standar estetika masa kini.
Pada era 70-an hingga 90-an, tren seperti kumis tebal bagi anak SMP, rambut permanen yang bervolume, hingga penggunaan bantalan bahu pada pakaian adalah puncak dari gaya anak muda yang dianggap keren. Namun, karena tren tersebut kini lebih banyak digunakan oleh generasi tua (yang tetap mempertahankan gaya masa muda mereka), otak kita secara otomatis mengasosiasikan gaya tersebut dengan “sosok orang tua.” Akibatnya, saat kita melihat foto remaja jadul dengan gaya rambut tersebut, kita secara tidak sadar memproyeksikan usia mereka yang sekarang ke dalam foto masa muda mereka.
2. Faktor Biologis dan Kemajuan Teknologi Kesehatan
Selain faktor persepsi, terdapat alasan biologis yang nyata. Sebuah studi bertajuk “Is 60 the New 50?” yang dilakukan oleh Yale School of Medicine dan University of South Carolina pada 2018 menemukan bahwa usia biologis manusia memang mengalami perlambatan selama dua dekade terakhir.
Perubahan ini dipicu oleh kesadaran kesehatan yang meningkat drastis. Pada masa lalu, perlindungan terhadap sinar matahari sangat minim; budaya berjemur tanpa tabir surya (SPF) sangat lazim, yang mempercepat kerusakan kolagen dan memicu kerutan dini. Sebaliknya, remaja masa kini tumbuh di era ledakan industri skincare. Penggunaan produk perawatan kulit, pembersih wajah, dan pelindung matahari sejak usia dini membantu menjaga elastisitas kulit tetap kenyal dan tampak segar.
3. Gaya Hidup, Nutrisi, dan Ortodonti
Gaya hidup juga memegang peranan penting. Penurunan angka perokok di kalangan remaja modern berdampak signifikan pada kecerahan dan kesehatan kulit. Selain itu, perbaikan nutrisi global dan akses yang lebih baik ke perawatan gigi (seperti behel) telah mengubah struktur wajah generasi sekarang. Gigi yang rapi dan rahang yang berkembang baik memberikan kontribusi besar pada penampilan wajah yang lebih proporsional dan awet muda.
4. Pengaruh Teknologi Fotografi
Terakhir, perbedaan teknis dalam cara kita mengabadikan momen turut memengaruhi pandangan kita. Foto dari era kamera film seringkali memiliki tekstur butiran (grain) yang kasar dan kontras yang tajam. Karakteristik ini cenderung mempertegas bayangan serta tekstur kulit, sehingga wajah tampak lebih “keras.” Hal ini sangat kontras dengan kamera smartphone masa kini yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI) untuk menghaluskan detail wajah secara otomatis, belum lagi pengaruh berbagai filter kecantikan yang mampu menyamarkan noda kulit seketika.

Kesimpulan
Secara kolektif, bukan berarti remaja zaman dulu menua secara tidak wajar. Penampilan mereka yang tampak lebih dewasa adalah hasil dari tren mode yang kini dianggap kuno, kurangnya teknologi perawatan kulit, serta keterbatasan teknologi dokumentasi pada masanya. Generasi sekarang tampak lebih muda bukan hanya karena faktor genetik, melainkan karena mereka hidup di era yang sangat memprioritaskan estetika dan kesehatan fisik secara menyeluruh.







