Business
Harga Perak Anjlok Tajam, Rekor Terburuk Sejak 1980

Pasar Guncang: Perak “Berdarah” di Level Terendah
Semarang (usmnews) – Pasar komoditas global sedang menghadapi guncangan hebat pada awal pekan ini. Kilau perak yang sebelumnya menjadi primadona kini meredup drastis setelah harga logam mulia ini mengalami tekanan jual yang masif. Para pelaku pasar menyaksikan perak spot “berdarah” dengan penurunan lebih dari 6%, membawanya terperosok ke level USD 78,86 per ons. Kondisi ini memperpanjang tren negatif setelah sebelumnya kontrak berjangka perak mencatatkan rekor penurunan harian paling brutal sejak Maret 1980, yakni anjlok hingga 28% pada perdagangan Jumat lalu.
Dolar AS “Mengamuk” dan Aturan Bursa Semakin Ketat
Apa yang sebenarnya memicu aksi jual besar-besaran ini? Analis pasar menyoroti dua “biang keladi” utama: kebangkitan Dolar AS dan perubahan kebijakan bursa. Mata uang Dolar AS (Greenback) kembali menunjukkan taringnya, menguat tajam terhadap mata uang utama lainnya. Sesuai hukum pasar, ketika Dolar AS menguat, harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar—seperti perak dan emas—menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing, sehingga permintaan pun menyusut seketika.

Tekanan jual semakin menggila akibat langkah agresif CME Group. Sebagai regulator pasar berjangka, CME memutuskan untuk memperketat aturan main dengan menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka perak COMEX berukuran 5.000 ons. Mereka mengerek margin pemeliharaan dari 11% menjadi 15%. Keputusan ini memaksa banyak trader, terutama mereka yang menggunakan dana pinjaman (leverage), untuk segera melikuidasi atau menjual posisi mereka demi menutupi kekurangan dana. Gelombang likuidasi paksa inilah yang mempercepat laju penurunan harga di pasar.
Bayang-Bayang Kebijakan The Fed dan Politik AS
Faktor ketidakpastian politik dan moneter di Amerika Serikat juga turut memperkeruh suasana. Pasar bereaksi gugup terhadap spekulasi pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Federal Reserve selanjutnya. Investor khawatir arah kebijakan moneter The Fed akan berubah haluan menjadi lebih ketat di bawah kepemimpinan baru. Ketakutan ini menjadi sentimen negatif yang kuat bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding assets) seperti logam mulia, membuat investor memilih untuk menjauh sementara waktu.

Efek Domino Hantam Pasar Domestik
Di dalam negeri, efek domino dari kejatuhan harga global ini langsung terasa. Harga perak batangan acuan di Indonesia, seperti produksi Antam, langsung menyesuaikan diri dengan penurunan global tersebut. Penurunan ini menjadi sinyal peringatan keras bagi investor ritel di tanah air. Para analis mengingatkan bahwa volatilitas pasar perak saat ini sedang berada di level yang sangat tinggi, sehingga menuntut kehati-hatian ekstra sebelum mengambil keputusan investasi jangka pendek.







