Lifestyle
Adu Nutrisi Ikan Lele vs Ikan Kembung: Mana yang Lebih Juara untuk Kesehatan?

Semarang (usmnews) – Dilansir dari CNBC Indonesia, perdebatan mengenai pilihan ikan untuk konsumsi harian sering kali muncul di tengah masyarakat, terutama antara dua jenis ikan yang sangat populer dan terjangkau: ikan lele dan ikan kembung. Keduanya memang menjadi primadona di pasar-pasar tradisional hingga swalayan karena kemudahan pengolahannya. Namun, jika ditilik lebih dalam dari sisi kandungan nutrisi dan potensi risiko kesehatannya, terdapat perbedaan signifikan yang patut menjadi pertimbangan.
Ikan lele, yang dikenal sebagai ikan air tawar, memang menawarkan sumber protein yang cukup baik bagi tubuh. Tekstur dagingnya yang lembut dan rasanya yang gurih membuatnya digemari banyak orang. Akan tetapi, dari segi profil nutrisi lainnya, lele memiliki kandungan omega-3 yang relatif lebih rendah dibandingkan ikan laut.

Selain itu, kandungan lemak pada lele cenderung lebih tinggi dengan komposisi yang kurang ideal jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Faktor lingkungan hidup lele juga menjadi sorotan; lele yang dibudidayakan di lingkungan yang kurang bersih berisiko terpapar polutan air. Oleh karena itu, keamanan konsumsi lele sangat bergantung pada kualitas air dan pakan di tempat budidayanya.
Di sisi lain, ikan kembung tampil sebagai “kuda hitam” yang kaya manfaat. Meski berukuran kecil, ikan laut ini menyimpan kandungan omega-3 yang melimpah. Omega-3 sendiri merupakan nutrisi vital yang berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung serta mendukung perkembangan otak, menjadikannya sangat baik untuk anak-anak dalam masa pertumbuhan maupun orang dewasa. Keunggulan ikan kembung tidak berhenti di situ; ikan ini juga diketahui memiliki kandungan vitamin D dan vitamin B12 yang lebih tinggi, sehingga menawarkan paket nutrisi yang lebih lengkap dibandingkan lele.
Faktor keamanan dari merkuri juga menjadi nilai tambah bagi ikan kembung. Karena siklus hidupnya yang pendek dan posisinya yang berada di rantai makanan bawah, ikan kembung memiliki kecenderungan mengakumulasi merkuri yang jauh lebih rendah dan lebih stabil dibandingkan ikan predator atau ikan yang hidup di lingkungan tercemar.

Mengingat merkuri adalah zat berbahaya yang tidak dapat hilang melalui proses pemasakan—baik digoreng, direbus, maupun dibakar—pemilihan jenis ikan menjadi langkah pencegahan utama.
Secara garis besar, bukan berarti ikan lele tidak boleh dikonsumsi. Lele tetap bisa menjadi alternatif sumber protein hewani yang ekonomis, asalkan kita selektif memilih sumber budidaya yang bersih dan tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Namun, jika tujuan utama konsumsi adalah untuk mendapatkan asupan nutrisi optimal dengan risiko kontaminan yang minimal, ikan kembung jelas menjadi pilihan yang lebih unggul dan menyehatkan untuk menu jangka panjang keluarga.







