Entertainment
Bungkam di Tengah Gejolak: Taylor Swift Tuai Kritik Tajam Publik Akibat Aksi Diam Terkait Isu Imigrasi (ICE) di AS

Semarang (usmnews) – Pada Januari 2026, megabintang pop dunia, Taylor Swift, kembali menjadi pusat perhatian media dan perbincangan hangat di jejaring sosial. Namun, kali ini sorotan tersebut bukan berasal dari prestasi musik atau rekor penjualan album terbarunya, melainkan gelombang kritik yang menargetkan sikap diamnya terhadap isu sosial-politik yang tengah memanas di Amerika Serikat. Swift dinilai “tutup mata” terhadap serangkaian operasi dan penggerebekan agresif yang dilakukan oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) di berbagai negara bagian AS.
Kekecewaan publik, khususnya dari basis penggemar setianya (Swifties) dan para aktivis hak asasi manusia, memuncak setelah melihat kontras yang tajam antara sikap Swift dengan rekan-rekan sesama musisi. Di saat artis muda lainnya seperti Sabrina Carpenter, Olivia Rodrigo, dan Billie Eilish secara vokal menyuarakan kecaman mereka terhadap kebijakan deportasi yang dinilai tidak manusiawi—bahkan ada yang secara terbuka melarang penggunaan musik mereka dalam propaganda politik pemerintah—Swift justru memilih untuk tidak mengeluarkan pernyataan apa pun. Padahal, laporan menyebutkan bahwa musik Swift sempat digunakan dalam konten media sosial yang berafiliasi dengan kampanye pemerintah atau pihak otoritas terkait, sebuah hal yang biasanya akan langsung direspons tegas oleh tim hukumnya jika menyangkut pelanggaran hak cipta atau penggunaan tanpa izin.
Kritik ini terasa semakin tajam mengingat jejak rekam aktivisme Swift di masa lalu. Publik kembali mengungkit janji sang penyanyi dalam film dokumenternya, Miss Americana (2020), di mana ia dengan emosional bertekad untuk “berada di sisi sejarah yang benar” dan tidak akan lagi membiarkan dirinya dibungkam dalam isu-isu politik krusial. Sikap apatisnya saat ini dinilai oleh banyak pihak sebagai bentuk pengingkaran terhadap komitmen moral yang pernah ia gaungkan sendiri. Para pengamat budaya pop di media sosial menyebut kebungkaman ini “terdengar sangat nyaring” (the silence is loud), mengisyaratkan bahwa ketidakpedulian dari seseorang dengan platform sebesar Swift dapat dimaknai sebagai persetujuan diam-diam atau setidaknya ketidakpekaan terhadap penderitaan komunitas imigran yang rentan.
Tekanan terhadap kekasih Travis Kelce ini semakin intens seiring dengan meningkatnya laporan mengenai kekerasan dalam operasi ICE di wilayah seperti Minnesota dan Los Angeles.
Banyak penggemar yang merasa dikhianati, mempertanyakan apakah keberanian politik Swift di masa lalu hanyalah strategi pencitraan semata atau apakah ia kini terlalu takut mengambil risiko yang dapat menggangu kenyamanan dan keamanan imperium bisnisnya. Hingga berita ini diturunkan, baik Swift maupun manajemennya belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan publik yang menuntutnya untuk menggunakan pengaruh besarnya demi kemanusiaan.







