Connect with us

Blog

Rusia Serukan Diplomasi Mendesak: Peringatkan Potensi Kekacauan Total di Timur Tengah Jika AS Serang Iran

Published

on

Semarang (usmnews) – Di tengah eskalasi geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah, Kremlin akhirnya angkat bicara dengan nada peringatan yang sangat serius.

Rusia secara tegas mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Peringatan ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, yang menyoroti bahwa setiap bentuk agresi militer atau penggunaan kekerasan terhadap Iran tidak hanya akan berdampak pada kedua negara yang berseteru, tetapi juga akan memicu kekacauan regional yang tak terkendali.

Pernyataan Moskow ini muncul sebagai respons atas retorika perang yang kian intensif, terutama setelah adanya ancaman tersirat dari Amerika Serikat mengenai “waktu yang hampir habis” bagi Iran. Dalam pandangan Rusia, situasi di Timur Tengah saat ini ibarat benang kusut yang sangat rapuh; satu tarikan keras berupa serangan militer dapat memutuskan stabilitas keamanan yang selama ini sudah terganggu. Peskov menekankan bahwa skenario konfrontasi militer akan membawa konsekuensi “bencana” (catastrophic) yang meluas, yang berpotensi menyeret negara-negara lain ke dalam pusaran konflik dan meruntuhkan tatanan ekonomi serta keamanan di kawasan strategis tersebut.

Lebih lanjut, Kremlin mendorong agar jalur diplomasi dan dialog politik dikedepankan sebagai satu-satunya solusi yang rasional.

Rusia menilai bahwa penyelesaian sengketa melalui laras senapan hanya akan menciptakan spiral kekerasan baru yang sulit dihentikan. Desakan ini juga mencerminkan kekhawatiran Rusia akan posisi strategisnya sendiri, mengingat Iran merupakan mitra dekat Moskow di kawasan tersebut.

Ketidakstabilan di Teheran atau perang terbuka di Teluk Persia akan secara langsung mengancam kepentingan ekonomi dan politik Rusia.

Peringatan dari Moskow ini juga datang beriringan dengan klaim Iran yang baru-baru ini menyatakan telah memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur arteri perdagangan minyak dunia. Dengan situasi yang saling mengunci ini—di mana AS memberikan ultimatum dan Iran menunjukkan postur siap tempur—Rusia berusaha menempatkan dirinya sebagai suara “pengerem” yang mengingatkan Washington bahwa biaya dari sebuah perang di Timur Tengah akan jauh lebih mahal dan merusak dibandingkan upaya diplomatik yang mungkin terasa lambat namun lebih aman.

Inti dari pesan Kremlin sangat jelas: hindari pemicu perang, atau bersiaplah menghadapi kekacauan total yang akan sulit dipulihkan dalam waktu dekat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *