Education
Ironi di Balik Pengabdian: Kisah Salma, Guru Honorer di Jakarta yang Bertahan Hidup dengan Kerja Samping

Semarang (usmnews) – Di balik citra mulia sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tersimpan realitas pahit yang harus dihadapi oleh ribuan guru honorer di Indonesia, tak terkecuali di ibu kota. Kisah ini dialami oleh Salma (25), seorang pendidik muda yang mengabdikan dirinya mengajar di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Meskipun perannya sangat vital dalam mencerdaskan generasi penerus, apresiasi finansial yang diterimanya jauh dari kata layak untuk hidup di kota metropolitan sekeras Jakarta.
Setiap bulannya, Salma hanya menerima honorarium total sekitar Rp 1,5 juta. Angka ini merupakan akumulasi pendapatannya dari mengajar di dua jenjang sekolah yang berbeda namun berada di bawah naungan yayasan yang sama. Jika disandingkan dengan standar hidup Jakarta, angka ini sangatlah minim. Bahkan, pendapatannya tersebut jauh berada di bawah standar Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2026 yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 5.729.876 per bulan. Kesenjangan yang menganga lebar antara gaji yang diterima dengan biaya hidup minimum ini memaksa Salma untuk memutar otak demi sekadar bertahan hidup.
Dalam wawancaranya pada Rabu, 28 Januari 2026, Salma mengakui bahwa mengandalkan gaji guru saja adalah hal yang mustahil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, ia terpaksa mencari penghasilan tambahan di luar jam sekolah formal. Salma mengisi waktu luangnya dengan menjadi guru les privat dan mengajar di bimbingan belajar (bimbel) di dua lokasi berbeda. Rutinitas ini menuntut stamina fisik dan mental yang luar biasa, setelah seharian mengajar di sekolah formal, ia harus melanjutkan aktivitas mengajarnya di tempat lain hingga sore atau malam hari.
Perjalanan karier Salma sebagai pendidik dimulai sejak tahun 2023, bermula dari kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) saat ia masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta Timur. Kecintaannya pada dunia pendidikan membuatnya bertahan di sekolah tersebut hingga kini, di mana ia dipercaya mengampu mata pelajaran Sejarah untuk tingkat SMA dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk tingkat SMP. Meskipun tantangan ekonomi terus membayangi, dedikasi Salma untuk tetap mengajar menunjukkan ketulusan yang luar biasa, sekaligus menjadi kritik tersirat bagi sistem kesejahteraan guru honorer yang masih perlu banyak perbaikan di negeri ini.






