Connect with us

Education

Menakar Masa Depan Bangsa Melalui Transformasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Jenjang Pendidikan Dasar

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Implementasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) bukan sekadar rutinitas ujian baru dalam kalender pendidikan Indonesia. Langkah ini merupakan perwujudan dari upaya strategis negara untuk memetakan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Melalui data yang dihasilkan dari TKA, pemerintah dan para pemangku kepentingan pendidikan berupaya menyusun peta jalan yang lebih akurat untuk menyongsong masa depan bangsa.

Secara filosofis, kebijakan ini berakar pada teori pertumbuhan endogen, yang menempatkan kualitas manusia sebagai motor penggerak utama dalam pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Sebagaimana dikemukakan oleh para pakar ekonomi pembangunan, sebuah negara yang enggan atau menunda proses pengukuran kualitas generasinya sebenarnya tengah menunda kemajuannya sendiri. Dengan adanya TKA di jenjang SD dan SMP, Indonesia mencoba memutus rantai ketidaktahuan atas kompetensi riil siswanya, sehingga intervensi pendidikan dapat dilakukan secara tepat sasaran sebelum mereka memasuki jenjang pendidikan tinggi atau dunia kerja.

Salah satu poin krusial dalam artikel tersebut adalah pergeseran paradigma dari kebijakan berbasis intuisi menuju kebijakan berbasis data (evidence-based policy). Selama bertahun-tahun, sering kali kebijakan pendidikan diambil berdasarkan asumsi atau tren sesaat. TKA hadir sebagai instrumen objektif untuk menyediakan fondasi data yang kuat bagi pengambilan keputusan publik. Data ini nantinya tidak hanya berguna bagi pemerintah pusat, tetapi juga bagi sekolah untuk mengevaluasi efektivitas kurikulum yang diterapkan.

Menariknya, artikel tersebut memberikan komparasi dengan sistem pendidikan di Finlandia. Di negara dengan salah satu kualitas pendidikan terbaik dunia tersebut, evaluasi nasional digunakan sebagai alat penguatan internal bagi pelatihan guru dan pengembangan kurikulum. Prinsip ini dikenal sebagai akuntabilitas berbasis kepercayaan (trust-based accountability). Artinya, TKA tidak boleh disalahgunakan sebagai sarana untuk melakukan pemeringkatan sekolah atau memberikan label “baik” dan “buruk” kepada institusi pendidikan. Sebaliknya, TKA harus dipandang sebagai cermin untuk melihat di mana letak kelemahan sistem pengajaran dan bagaimana cara memperbaikinya agar kualitas guru dan murid meningkat secara merata.

Dari sisi praktis bagi siswa, TKA kini menjadi instrumen yang memiliki bobot signifikan dalam jenjang pendidikan lanjutan. Sebagai contoh, dalam mekanisme Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026, kelengkapan nilai TKA menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Hal ini menegaskan bahwa setiap tahapan tes di tingkat SD dan SMP memiliki korelasi langsung dengan peluang siswa di masa depan. Ketidakhadiran atau ketidaklengkapan data akademik ini dapat menghambat langkah siswa dalam mengejar pendidikan tinggi impian mereka.

Sebagai kesimpulan, TKA bagi siswa SD dan SMP adalah sebuah instrumen navigasi nasional. Dengan mengukur kemampuan akademik siswa secara konsisten dan ilmiah, kita sedang membangun fondasi bagi pembangunan manusia yang lebih berkualitas. Keberhasilan TKA tidak hanya bergantung pada kemampuan siswa dalam menjawab soal, tetapi juga pada kemampuan pemerintah dalam mengolah data tersebut menjadi kebijakan pendidikan yang adaptif, transformatif, dan berorientasi pada kemajuan jangka panjang. Dengan demikian, membaca hasil TKA hari ini adalah cara terbaik bagi kita untuk membaca wajah masa depan Indonesia di dekade-dekade mendatang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *