Connect with us

Anak-anak

Ancaman Nyata Screen Time Berlebih Terhadap Perkembangan Bahasa Anak

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Para orang tua kini diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terkait intensitas penggunaan gawai, seperti ponsel pintar dan tablet, yang diberikan kepada anak-anak sebagai sarana hiburan. Imbauan ini didasari oleh temuan riset terbaru yang dipublikasikan oleh Pemerintah Inggris, yang menyoroti adanya korelasi kuat antara durasi screen time (waktu layar) yang tinggi dengan terhambatnya perkembangan kemampuan linguistik atau berbahasa pada anak usia dini.

‎Menteri Pendidikan Britania Raya, Bridget Phillipson, secara tegas menyampaikan kekhawatirannya mengenai fenomena ini. Berdasarkan data yang ia paparkan, tingkat adopsi teknologi pada anak-anak di Inggris sangatlah tinggi, di mana 98 persen anak tercatat sudah terpapar dan menggunakan gawai setiap hari sejak mereka baru menginjak usia dua tahun.

‎Dampak Nyata di Lingkungan Sekolah Dampak dari kebiasaan ini mulai dirasakan secara nyata di lingkungan pendidikan awal. Laporan dari para orang tua, guru, hingga staf pengajar di taman kanak-kanak menunjukkan adanya perubahan perilaku yang signifikan pada peserta didik baru. Banyak anak yang datang ke sekolah atau taman kanak-kanak mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi sosial dasar. Mereka cenderung susah diajak bercakap-cakap, sulit mempertahankan fokus atau konsentrasi, serta kurang mampu melibatkan diri dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan kognitif dan sosial mereka tergerus oleh interaksi pasif dengan layar.

‎Kesenjangan Kosakata yang Mencolok Penelitian tersebut memberikan data statistik yang cukup mengejutkan mengenai penguasaan kosakata. Terdapat perbedaan perkembangan yang sangat tajam antara anak yang terpapar layar dalam durasi lama dibandingkan dengan mereka yang dibatasi. Anak-anak yang menghabiskan waktu di depan layar hingga lima jam sehari terbukti hanya mampu menyerap dan mempelajari sedikit kosakata. Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan anak-anak yang durasi screen time-nya dibatasi hanya sekitar 44 menit per hari, di mana kemampuan bahasa mereka jauh lebih berkembang.

‎Faktor Ekonomi dan Budaya Literasi Selain faktor gawai, penelitian ini juga menyoroti peran penting buku dalam membangun kosakata anak. Namun, ironisnya, kemampuan untuk membangun budaya literasi ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi keluarga. Data menunjukkan ketimpangan sosial yang jelas: 77 persen anak dari keluarga berpenghasilan tinggi rutin dibacakan buku setiap hari oleh orang tua mereka. Sementara itu, hanya 32 persen anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang mendapatkan perlakuan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu menghadapi tantangan ganda: risiko paparan layar yang tinggi dan minimnya akses terhadap literasi dini.

‎Tantangan Pola Asuh dan Refleksi Orang Tua Bridget Phillipson juga mengakui bahwa tantangan ini adalah hal yang manusiawi. Dalam tulisannya di Sunday Times, ia berbagi pengalaman pribadi sebagai orang tua yang terkadang mengalah pada permintaan anak untuk menonton “satu episode lagi” dari tayangan favorit mereka demi ketenangan sesaat. Namun, ia mengingatkan bahwa pembiaran atas permintaan “satu episode lagi” tersebut jika terakumulasi terus-menerus akan menimbulkan risiko jangka panjang bagi perkembangan otak anak.

‎Mengingat bahwa teknologi layar seperti televisi dan gawai tidak mungkin dihapuskan sepenuhnya dari kehidupan modern, Phillipson menyarankan pendekatan yang bijak. Gawai sebaiknya tidak dijadikan “pengasuh elektronik”, melainkan alat pendukung yang digunakan secara interaktif, misalnya untuk permainan edukatif atau berbagi cerita bersama orang tua.

‎Lebih jauh lagi, perilaku orang tua sendiri perlu dikoreksi. Seringkali, orang dewasa menuntut anak untuk lepas dari gawai, padahal mereka sendiri terpaku pada ponsel berjam-jam, bahkan saat berada di tempat umum atau saat bersama keluarga. Phillipson menekankan bahwa kebiasaan baru harus dibangun melalui kolaborasi, bukan sekadar instruksi satu arah. Orang tua harus menjadi teladan dengan mengurangi waktu layar mereka sendiri dan menggantinya dengan aktivitas fisik dan sosial yang esensial di tahun-tahun awal pertumbuhan anak, seperti berbicara tatap muka, bermain bersama, dan membacakan buku.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *