Connect with us

Lifestyle

Dilema Keju Berjamur: Kapan Aman Diselamatkan dan Kapan Harus Dibuang?

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Menemukan bintik-bintik hijau atau putih berbulu halus pada blok keju favorit di dalam kulkas sering kali memicu kebingungan. Di satu sisi, membuang keju—terutama jenis impor yang mahal—terasa sangat sayang. Namun di sisi lain, mengonsumsinya menimbulkan kekhawatiran akan keracunan makanan. Jawaban atas dilema ini sebenarnya tidak hitam-putih, melainkan sangat bergantung pada tekstur dan tingkat kadar air dari keju itu sendiri. Memahami Sifat Alami Jamur. Penting untuk dipahami bahwa jamur (mold) yang terlihat oleh mata telanjang di permukaan makanan hanyalah sebagian kecil dari organisme tersebut. Jamur memiliki struktur akar mikroskopis yang disebut hifa, yang dapat menembus jauh ke dalam pori-pori makanan. Inilah mengapa sekadar mengikis bagian yang berjamur tidak selalu menjamin keamanan, karena akar racun mungkin sudah menyebar ke bagian dalam yang terlihat “bersih”.

Aturan untuk Keju Keras (Hard Cheese): Boleh Diselamatkan

Kabar baik berlaku bagi penggemar keju bertekstur keras dan padat, seperti Cheddar, Parmesan, Swiss, atau Gouda. Karena struktur molekul keju ini sangat rapat dan memiliki kadar air yang rendah, akar jamur sulit untuk menembus jauh ke dalam daging keju.Jika Anda menemukan jamur pada jenis keju ini, Anda tidak perlu membuang seluruh bloknya. Ikuti langkah penyelamatan berikut: Potong Bagian yang Terkontaminasi: Gunakan pisau untuk memotong setidaknya 2,5 cm (sekitar 1 inci) di sekitar dan di bawah area yang berjamur. Jarak ini dianggap aman untuk memastikan akar jamur ikut terbuang. Jaga Kebersihan Pisau: Pastikan pisau tidak menyentuh bagian jamur saat memotong agar spora tidak berpindah ke bagian keju yang masih segar. Ganti Bungkus: Setelah bagian busuk dibuang, jangan masukkan kembali keju ke pembungkus lama. Gunakan plastik wrap atau wadah baru yang bersih.

Larangan Keras untuk Keju Lunak (Soft Cheese): Segera BuangSebaliknya, aturan ini sangat berbeda untuk keju lunak, keju oles, atau keju yang dihancurkan/diparut (shredded). Jenis keju seperti Cream Cheese, Ricotta, Cottage Cheese, Brie, dan Camembert memiliki kadar air yang sangat tinggi dan tekstur berpori.Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi akar jamur untuk menyebar dengan cepat ke seluruh bagian tanpa terlihat. Lebih berbahaya lagi, kehadiran jamur pada keju lunak sering kali diikuti oleh pertumbuhan bakteri berbahaya yang tak kasat mata, seperti Listeria, Brucella, Salmonella, dan E. coli. Oleh karena itu, jika Anda melihat sedikit saja jamur pada jenis keju ini—atau pada satu paket keju parut/iris—solusi satu-satunya adalah membuang semuanya demi keselamatan kesehatan. Catatan khusus untuk keju yang memang dibuat dengan jamur (seperti Blue Cheese atau Gorgonzola): Jika muncul jamur yang berbeda dari jamur bawaannya, atau jika baunya berubah menjadi menyengat dan aneh, keju tersebut juga harus dianggap rusak dan dibuang.

Risiko Kesehatan yang Mengintai. Mengabaikan tanda-tanda jamur dan nekat mengonsumsinya dapat membawa risiko serius. Beberapa jenis jamur menghasilkan mikotoksin, zat beracun yang dapat memicu reaksi alergi, masalah pernapasan, hingga gangguan pencernaan akut. Pada individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, paparan jamur tertentu bisa berakibat fatal. Sebagai langkah preventif, penyimpanan yang tepat adalah kunci. Simpan keju di laci sayuran kulkas yang suhunya stabil, dan bungkus sisa keju dengan kertas lilin (wax paper) atau aluminium foil daripada plastik biasa agar keju tetap bisa “bernapas” namun terlindung dari spora udara.Intinya, jadilah konsumen yang bijak: selamatkan yang keras, dan buang yang lunak. Jangan pertaruhkan kesehatan hanya karena enggan membuang sisa makanan yang sudah terkontaminasi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *