Lifestyle
Sains di Balik Kebiasaan Bicara Sendiri: Bukan Gangguan Jiwa, Melainkan Kunci Kecerdasan dan Kesehatan Mental

Semarang (usmnews) – Dikutip Merdeka.com Seringkali, seseorang yang terlihat berbicara sendiri di tempat umum akan dianggap aneh atau bahkan mengalami gangguan kejiwaan. Namun, pandangan miring tersebut kini dipatahkan oleh berbagai temuan ilmiah. Fenomena yang dikenal secara medis sebagai self-talk ini ternyata merupakan aktivitas kognitif yang sangat wajar dan bahkan memberikan dampak positif yang signifikan bagi fungsi otak dan kesejahteraan psikologis manusia.
Bicara pada diri sendiri bukan sekadar gumaman tanpa makna, melainkan sebuah dialog internal yang mencakup pikiran, perasaan, serta evaluasi terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Menurut para ahli, hampir setiap individu melakukan self-talk, baik secara sadar maupun tidak. Perbedaan utamanya bukan terletak pada frekuensi aktivitas tersebut, melainkan pada isi atau kualitas dari pesan yang disampaikan kepada diri sendiri.
Secara ilmiah, self-talk memiliki peran besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Experimental Psychology menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan instruksi dengan suara keras saat mengerjakan tugas memiliki pemahaman yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang hanya membacanya di dalam hati. Hal ini membuktikan bahwa suara luar membantu otak dalam memproses informasi dan mengambil keputusan secara lebih efektif.

Dalam aspek kesehatan mental, manfaat self-talk terbagi menjadi dua sisi. Sisi positifnya, yang disebut sebagai positive self-talk, berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan rasa percaya diri, fokus, dan motivasi. Contoh nyata ditemukan pada dunia olahraga; atlet yang menggunakan motivasi verbal kepada diri sendiri terbukti memiliki performa, kekuatan, dan daya tahan yang lebih tinggi. Sebaliknya, dialog batin yang negatif justru menjadi pemicu kecemasan dan depresi jika dibiarkan terus-menerus.
Para psikolog menyarankan teknik khusus dalam mengelola dialog batin ini agar lebih bermanfaat, salah satunya adalah dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Alih-alih berkata “Aku bisa melakukannya,” akan lebih efektif jika kita berkata “Kamu bisa melakukannya” kepada diri sendiri. Teknik ini membantu menciptakan jarak emosional yang sehat sehingga stres lebih mudah diredam.
Untuk mengelola kebiasaan ini secara sehat, seseorang perlu mengenali pikiran negatifnya dan segera mengubahnya menjadi afirmasi positif. Praktik mindfulness seperti meditasi dan latihan pernapasan juga sangat membantu untuk menenangkan pikiran yang gaduh. Meskipun bicara sendiri itu sehat, penting untuk tetap waspada jika aktivitas ini mulai mengganggu kehidupan sehari-hari atau disertai halusinasi, karena pada titik itulah konsultasi dengan profesional kesehatan mental menjadi sangat diperlukan. Dengan pengelolaan yang tepat, berbicara pada diri sendiri bisa menjadi senjata ampuh untuk menjaga kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa.







