Lifestyle
Waspada Pencemaran Lingkungan: Ikan Lele, Menu Favorit yang Mampu Menyerap Racun dari Air

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Ikan lele, yang dikenal luas sebagai salah satu hidangan favorit masyarakat Indonesia, kini menjadi sorotan terkait potensi risiko kesehatan di balik kelezatannya. Dikenal dengan tekstur dagingnya yang lembut, harga yang terjangkau, serta kemudahan dalam pengolahannya—mulai dari pecel lele hingga mangut—ikan ini telah lama menjadi sumber protein andalan.
Secara nutrisi, ikan lele (dari genus Clarias dan spesies catfish lainnya) sebenarnya menawarkan profil gizi yang sangat baik. Seafood Watch mencatat bahwa ikan lele mengandung lemak jenuh yang rendah, hanya sekitar 1 gram per porsi, serta kaya akan asam lemak omega-3, EPA, dan DHA yang bermanfaat bagi kesehatan jantung dan fungsi otak.

Namun, di balik manfaat gizinya yang melimpah, terdapat sisi lain yang perlu diwaspadai oleh konsumen. Penelitian ilmiah terbaru, termasuk riset yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research, mengungkapkan bahwa ikan lele memiliki kemampuan biologis untuk mengakumulasi berbagai jenis polutan berbahaya dari lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai ikan yang sering hidup di perairan tenang atau bahkan keruh, lele sangat rentan menyerap racun yang terdapat dalam air dan sedimen sungai.
Zat berbahaya yang dapat diserap oleh tubuh lele meliputi logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan seng (Zn). Selain itu, lele juga dapat mengakumulasi polutan organik persisten seperti pestisida dan Polychlorinated Biphenyls (PCB). Kontaminasi ini biasanya berasal dari limbah industri yang dibuang ke sungai, air yang tercemar limbah rumah tangga, atau pakan yang tidak higienis. Studi kasus yang dilakukan di Sungai Paraopeba, Brasil, menemukan bukti nyata bahwa logam berat tersebut terakumulasi dalam jaringan tubuh lele, dengan konsentrasi tertinggi sering kali ditemukan pada organ internal atau jeroan ikan.

Risiko kesehatan ini menjadi jauh lebih tinggi pada ikan lele liar yang ditangkap dari sungai-sungai yang tingkat pencemarannya tinggi, dibandingkan dengan lele yang dibudidayakan di kolam yang terkontrol. Jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang, akumulasi logam berat dalam tubuh manusia dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari kerusakan sistem saraf, gangguan ginjal, hingga risiko kanker.
Meskipun demikian, para ahli menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut berlebihan untuk mengonsumsi ikan lele, asalkan cermat dalam memilih. Risiko utama bukan berasal dari ikan lele itu sendiri, melainkan dari kondisi lingkungan tempat ia hidup. Untuk meminimalkan risiko, konsumen sangat disarankan untuk memilih ikan lele hasil budidaya (tambak/kolam) yang kebersihan air dan pakannya terjamin serta diawasi. Dengan memilih sumber yang tepat, masyarakat tetap bisa menikmati lezat dan bergizinya ikan lele tanpa harus khawatir akan ancaman racun yang tersembunyi.







