Nasional
Manuver Efisiensi Total Garuda Indonesia: Direksi Rela Potong Gaji hingga Hemat Avtur Demi Penyehatan Korporasi

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari detikFinance.com PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tengah melakukan langkah agresif dan komprehensif demi memulihkan kondisi kesehatan finansial perusahaan. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI yang digelar di Senayan, Jakarta, pada Senin (1/12/2025), manajemen maskapai pelat merah ini mengungkapkan serangkaian strategi efisiensi, mulai dari pemangkasan kompensasi pimpinan hingga perombakan operasional teknis.
Keteladanan dari Pucuk PimpinanDirektur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, menegaskan bahwa perbaikan kondisi perusahaan harus dimulai dari contoh nyata para pemimpinnya. Dalam inisiatif yang mengejutkan, Glenny mengajukan tantangan kepada jajaran direksi dalam rapat internal terakhir mereka untuk melakukan pengorbanan sukarela. Ia mengusulkan pemotongan gaji direksi sebesar 10% sebagai simbol solidaritas dan tanggung jawab pemimpin di masa sulit.

Gayung bersambut, usulan tersebut mendapatkan respons positif dan disetujui secara bulat oleh seluruh jajaran direksi. Glenny menekankan bahwa kesepakatan ini bukan sekadar soal angka penghematan, melainkan sebuah pesan moral yang kuat bahwa perbaikan organisasi menuntut keberanian untuk berkorban, dimulai dari mereka yang memegang jabatan tertinggi.
Restrukturisasi Perwakilan Luar NegeriEfisiensi tidak berhenti di level direksi. Manajemen juga menyoroti pos-pos pengeluaran di kantor perwakilan luar negeri, khususnya di Jepang. Langkah tegas diambil menyusul adanya keluhan pelanggan terkait perubahan tiket mendadak. Sebagai respons cepat, Glenny memerintahkan penggantian kepala perwakilan di Jepang pada hari itu juga.
Lebih jauh, Garuda Indonesia memangkas jumlah staf yang dikirim dari pusat (Jakarta) ke Jepang. Jika sebelumnya terdapat dua hingga tiga orang perwakilan, kini jumlahnya dikurangi menjadi hanya satu orang. Strategi ini diambil untuk menekan biaya tunjangan luar negeri (allowance), biaya sewa tempat tinggal, dan fasilitas lainnya yang membebani kas perusahaan. Sebagai gantinya, Garuda akan lebih mengoptimalkan peran staf lokal di negara tujuan yang biayanya jauh lebih efisien.

Budaya Baru dan Penghematan Bahan BakarSelain efisiensi biaya SDM, Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyoroti pentingnya manajemen arus kas (cashflow) di tengah kondisi operasional yang kritis. Ia mengakui bahwa pendapatan perusahaan sedang tertekan akibat banyaknya armada pesawat yang belum siap beroperasi (bullish serviceable).
Untuk mengatasi hal ini, Garuda menerapkan strategi teknis berupa penghematan bahan bakar avtur yang cukup signifikan. Salah satu metode yang diterapkan adalah single-engine taxi, di mana pesawat hanya menggunakan satu mesin saat bergerak di landasan pacu (taxiing) sebelum lepas landas atau setelah mendarat. Langkah teknis sederhana ini terbukti sangat efektif, dengan klaim penghematan avtur mencapai 21 juta liter.
Di sisi lain, Glenny juga berambisi mengubah kultur kerja perusahaan dalam 100 hari pertamanya menjabat. Ia mewajibkan adanya catatan panduan perilaku yang harus diucapkan dan diinternalisasi oleh para pekerja untuk membangun karakter yang lebih kuat dan disiplin.
Kombinasi antara pengorbanan pimpinan, efisiensi operasional, dan revolusi budaya kerja ini diharapkan mampu memberikan “warna baru” dan membawa Garuda Indonesia keluar dari turbulensi finansial.







