Education
Dari Sidikalang ke Najran: Misi Seorang Barista untuk Kesejahteraan Petani

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari Sindonews.com Sebuah transformasi luar biasa telah dialami oleh Ismail Sigalingging, yang perjalanannya membuktikan bahwa kopi memiliki kekuatan untuk mengubah rasa tidak suka menjadi gairah yang mendalam. Siapa sangka, pria yang dulunya membenci kopi ini kini meniti karier sebagai barista profesional hingga ke Najran, Arab Saudi.
Namun, titik balik Ismail bukanlah secangkir kopi nikmat, melainkan sebuah keprihatinan mendalam terhadap realitas pahit yang dihadapi para petani kopi di tanah kelahirannya, Sidikalang. Ia menyaksikan sendiri bagaimana para petani, yang merupakan tulang punggung industri kopi, masih banyak yang terjerat dalam masalah ekonomi, meskipun peluang di sektor tersebut sangat besar.
Didorong oleh kondisi tersebut, Ismail bertekad untuk terjun dan mempelajari dunia kopi dari akarnya. “Saya mulai memahami proses kopi itu dari nol. Dari melihat petani-petani kopi di kampung saya,” ungkap Ismail, seperti dikutip dari laman Vokasi Kemendikdasmen (18/11/2025). Langkah awalnya membawanya merantau ke Gayo. Di sana, ia bekerja sebagai eksportir kopi. Pengalaman ini memberinya pemahaman fundamental mengenai proses pengolahan kopi di sektor hulu, atau di tingkat produsen.

Meski demikian, Ismail merasa pengetahuannya belum lengkap. Ia menyadari bahwa memahami hulu saja tidak cukup untuk misinya. Sekembalinya ke kampung halaman, sebuah kesempatan baru muncul. Ia menemukan informasi mengenai program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) yang diselenggarakan oleh LKP Merapi School di Klaten, Jawa Tengah, yang secara spesifik menawarkan kursus barista. Tanpa ragu, ia mendaftar dan berhasil diterima. “Ini mungkin jalannya untuk mempelajari tentang kopi secara lebih dalam,” kenangnya.
Pelatihan di LKP Merapi School benar-benar membuka wawasannya terhadap dunia peracikan kopi atau sisi hilir industri. Meskipun ia sudah memiliki dasar pengetahuan dari pengalamannya sebagai eksportir, kursus ini membuatnya semakin terpikat pada seni menyeduh. Ia mempelajari bahwa menjadi barista bukan sekadar menuang air. “Meracik itu perlu ketelatenan dan ada ukurannya, gak bisa sembarang. Ini melatih keterampilan saya juga,” jelas Ismail. Selama pelatihan intensif, ia diperkenalkan dengan berbagai alat dan metode seduh modern yang belum pernah ia temui sebelumnya, mulai dari teknik membuat espresso, latte art, cold brew, hingga kopi tradisional seperti javanese coffee.
Program PKK tidak hanya memberinya ilmu, tetapi juga validasi formal. Ismail mengikuti ujian kompetensi dan berhasil meraih sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK). Ia mengakui bahwa program magang di Lava Coffee Kitchen, yang merupakan bagian dari kursus, sangat membantunya untuk lulus ujian sertifikasi tersebut. Berbekal sertifikat dan keterampilan baru, Ismail segera mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai barista di sebuah kafe di Jombang.

Namun, Jombang bukanlah perhentian terakhirnya. Ismail terus mencari tantangan dan peluang yang lebih besar. Kegigihannya membawanya lolos seleksi ketat untuk bekerja di 1K Coffee, salah satu kedai kopi ternama di Arab Saudi. Ia ditempatkan di Kota Najran. “Ini adalah babak baru di hidup saya,” katanya.
Menghadapi kontrak kerja di luar negeri untuk pertama kalinya tentu menimbulkan kekhawatiran, terutama memikirkan keluarga di kampung halaman. Akan tetapi, Ismail memantapkan langkahnya. Baginya, pengalaman internasional ini adalah sarana untuk memperluas wawasan demi mewujudkan misi utamanya. “Niatku cuma satu, para petani harus sejahtera,” tegasnya.
Saat ini, dengan kontrak kerja selama dua tahun dan pendapatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia, Ismail dapat mengumpulkan modal. Ia memiliki tekad kuat untuk menggunakan tabungan tersebut tidak hanya untuk keluarganya, tetapi juga sebagai modal untuk akhirnya kembali ke Sidikalang dan membuka usaha kopi sendiri. Langkah ini ia yakini sebagai cara konkret untuk berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan petani kopi di tanah kelahirannya.







